Sunday, March 15, 2015

Belajar Komitmen dari Tukang Batu

Alkisah, ada seorang tukang batu yang tengah sibuk memecah batu, ketika raja dan serombongan pejabat istana lengkap dengan kereta kudanya melintas penuh wibawa. Tukang batu yang nampak kelelahan itu mulai berandai-andai, betapa nikmatnya menjadi raja. Jalan-jalan kesana kemari dengan kereta kuda yang penuh dengan wibawa.
“Duar”.  Tuhan mengabulkan keinginannya. Berubahlah ia menjadi raja. Ditengah pekerjaannya, ia dituntut untuk melakukan perjalanan jauh yang melelahkan. Terik matahari mulai membakar kulitnya.  Ia pun berpikir betapa enaknya jadi matahari yang begitu leluasa mengatur panas kesana kemari.
“Duar”.  Tuhan kembali mengabulkan permohonannya. Berubahlah ia menjadi matahari. Tak berapa lama ia menyinari, datanglah awan yang menutupi pancaran sinarnya.  Ia pun mendengar sorak sorai orang-orang menyambut awan sebagai pertanda turunnya hujan. Dan ia kembali berandai, sungguh nikmat jika ia menjadi awan. Seketika itu Tuhan mengabulkan permintaannya.


“Duar”.  Berubahlah ia menjadi awan. Namun hal ini pun tidak berlangsung lama. Ketika ia sedang asyik bersenda gurau dengan sang hujan, datanglah angin yang mengusirnya. Ia merasa dilecehkan. Ia berharap kepada Tuhan agar diubah menjadi angin. Tuhan yang baik hati kembali mengabulkan harapannya.
“Duar”.  Untuk kesekian kali tubuhnya melebur, dan kini menjadi angin. Dengan kuasanya ia bebas menghembuskan angin sepoi-sepoi bahkan menciptakan badai. Lama ia asyik bemain-main, akhirnya ia sadar. Ada satu benda yang tidak bergeming walau sekencang apapun angin dan badai yang ia ciptakan. Yaitu gunung.
Ia kembali memohon agar tuhan mengubahnya menjadi gunung, dan “duar” sebuah gunung perkasa dengan kokoh menjulang tinggi. Ia merasa bangga, kini takkan ada yang mengalahkan keperkasaannya. Namun sayup–sayup terdengar ada orang yang sedang memukul sesuatu.  Ia merasa tidak asing dengan suara itu, dan secara bersamaan ia merasakan sakit yang luar biasa. Ketika sadar bagian tubuhnya dipukul-pukul oleh tukang batu, kesombongannya sekejap sirna. Dan ia memohon untuk dikembalikan menjadi tukang batu.
Setiap manusia dikaruniakan oleh sang pencipta kemampuan untuk menghasilkan yang terbaik bagi lingkungannya. Komitmen tehadap kemampuan diri adalah cara yang terbaik untuk mencapai kesuksesan. Namun sering kali kita menggunakan standart keberhasilan dan kegagalan orang lain sebagai ukuran kesuksesan tanpa memperhatikan passion dan keahlian kita.
Adakalanya kita harus belajar dari tukang batu. Keberhasilan orang lain yang nampak indah di matanya ternyata hanyalah fatamorgana. Pada akhirnya ia memohon untuk dikembalikan menjadi tukang batu. Mungkin begitu juga dengan kita. Sering kali kita berandai-andai nikmatnya menjadi  orang lain, dan sejenak kita lupa bahwa tuhan pun menganugerahkan kita kemampuan yang tak kalah hebatnya. Yang diperlukan hanyalah komitmen pada diri sendiri dan apa yang sedang kita cita-citakan, sehingga kita akan disibukkan dengan peningkatan diri untuk meraih kesuksesan tanpa terpengaruh oleh pencapaian orang lain.

Lalu dari mana kita harus memulai komitmen kita? Komitmen dapat dimulai dari keseriusan menekuni dan menjalankan profesi, tugas, maupun pekerjaan yang diamanahkan saat ini, dengan memberikan kemampuan terbaik yang kita miliki. Sebagaimana Ungkapan Marthin Luther King yang patut menjadi renungan, “jika seseorang terpanggil menjadi tukang batu, hendaklah ia memecah batu sebagaimana Michael Angelo melukis atau Beethoven menciptakan musik, atau Shakespeare menulis puisi. Hendaklah ia memecah batu dengan sangat baik sehingga segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, di sinilah tinggal seorang tukang batu yang agung, yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik.”

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D