Thursday, May 11, 2017

DKI Jakarta Darurat Gangguan Jiwa


DKI Jakarta yang merupakan Ibukota Republik Indonesia ternyata darurat Gangguan Jiwa.
Menurut data riset kesehatan dasar (riskesdas) Departemen Kesehatan pada tahun 2014 lalu, 1 juta orang tercatat sebagai pasien ganguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan di seluruh Indonesia.Dari Jumlah itu, 385.700 orang atau 2,03 % pasien gangguan jiwa hidup di Jakarta. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi Penederita Psikotik atau orang dengan masalah kejiwaan (OMDK) di DKI Jakarta tiap tahun mengalami peningkatan.
Kaget? pasti iya. Dan nyatanya fakta inilah yang saya dapat dari acara 'Meet and Greet Blogger' oleh Kemenkes di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan.



Ada apa ini???

Kenapa DKI Jakarta, dengan kemajuan teknologi dan berbagai macam kemudahan, justru menjadi kota dengan predikat darurat gangguan Jiwa. Beberapa penyebabnya adalah tekanan ekonomi, status sosial keluarga dan Internet Addiction. Saya rasa banyak dari teman-teman yang sudah tahu bagaimana tekanan ekonomi dan status sosial keluarga dapat menjadi faktor pemicu gangguan jiwa. Untuk itu dalam postingan kali ini, saya akan lebih spesifik membahas internet addiction, atau adiksi internet. 



Internet Addiction atau adiksi Internet adalah kecanduan yang berlebihan terhadap internet.

Berbicara soal internet, ngga dipungkiri bahwa internet membawa manfaat yang banyak banget untuk kita. Dari mulai mencari informasi, membeli keperluan sehari-hari sampai alternatif untuk transportasi. Tapi yang nggak banyak kita tahu, internet ini seperti mempunyai dua sisi yang berlainan, yang satu memudahkan, dan satu lagi menyesatkan. Buktinya, banyak kasus pertengkaran, penculikan, pemerkosaan bahkan pembunuhan yang bermula dari internet alias dunia maya.

Bahkan sampai saat saya menuliskan artikel ini, timeline media sosial saya isinya gontok-gontokan mengenai perbedaan sudut pandang politik, vonis hukum salah satu tokoh politik, dan lain-lain. Agak sebel sih ya liatnya, karena kalau sudah jelas beda pendapat untuk apa lagi sih berdebat. Hal itu malah akan membuat perbedaan semakin meruncing yang berakibat pada pertengkaran di media sosial. 

Ada lagi kasus di Amerika, di mana seseorang harus tidak lulus kuliah karena tidak pernah menghadiri kelas karena sibuk berinternet ria. Dan kasus di dalam negeri sendiri adalah seorang gadis berusia 12 tahun kabur dari rumah selama dua minggu, dan mengaku tinggal di warnet hanya untuk bermain game online. Astagaaaa, adiksi internet sudah merebak dimana-mana rupanya.


Yuk Kenali Gejala Adiksi Internet



dr. Suzy Yusna Dewi

Salah satu narasumber kece yang berbagi ilmu pada para blogger di acara "Meet and Greet Blogger dalam Rangka HUT RSJ Soeharto Heerdjan yang ke-50" adalah, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, SpKJ (K), seorang psikiater anak dan remaja di RSJ Soeharto Heerdjan, Beliau menuturkan, Gejala yang paling umum dari adiksi internet adalah menghabiskan waktu berlebihan untuk online dan pada saat penderita mengurangi pengaksesan internet makan penderita akan merasa cemas, iritabel dan depresi.  

Beberapa bentuk gejala kecanduan internet atau adiksi internet antara lain:
  • Membutuhkan waktu online yang lebih lama (>40 jam / bulan)
  • Kurang tidur atau kelelahan
  • Mendapat nilai yang buruk dalam studi
  • Performa kerja menurun
  • Lesu dan kurang fokus
  • Cenderung kurang terlibat dalam aktivitas hubungan sosial (kurang bisa bersosialisasi dengan baik)
  • Berbohong tentang berapa lama waktu yang mereka gunakan untuk online dan juga permasalahan yang mereka tunda karenanya
  • Kebayakan dari mereka yang kecanduan internet adalah mereka yang mengalami depresi berat dan kecemasan.
Adiksi internet ini tentu dapat mengakibatkan gangguan yang signifikan pada pekerjaan, pendidikan, keluarga bahkan interaksi sosial. Dan anehnya, nggak semua penderita adiksi internet ini mengganggap bahwa adiksi internet itu merupakan suatu masalah atau gangguan kejiwaan, sehingga sedikit banget yang memilih pengobatan ke tenaga medis profesional.

dr. Nova Riyanti Yusuf

Lebih lanjut, pembicara kece berikutnya dr. Nova Riyanti Yusuf, SPKJ, yang merupakan Ketua umum PDSKJI Jakarta dan Psikiater di RSJ Soeharto Heerdjan menuturkan bahwa Internet Addiction ini dibagi lagi menjadi 5 kategori, yaitu:
  1. Cybersexual Addiction, yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs-situs porno atau cybersex secara kompulsif.
  2. Cyber-relationship Addiction, yaitu seseorang yang hanyut dalam dunia pertemanan atau hubungan melalui dunia cyber.
  3. Net Compulsion, yaitu seseorang yang terobsesi pada situs-situs perdagangan (cyber shooping atau dry trading) atau perjudian (Cyber casino)
  4. Information Overload, yaitu seseorang yang menelusuri situs-situs informasi secara kompulsif.
  5. Computer Addiction, yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan-permainan online (online games).
Waw, 5 kategori di atas, rasanya dekat dengan kita semua ya. Dan menurut penelitian lebih lanjut, ternyata hal ini berawal di usia remaja lho. remaja sekarang lebih senang berinteraksi secara online, bahkan tak segan berlomba-lomba mengumpulkan followers. Bukan hanya itu adanya game online juga menambah daftar adiksi internet di kalangan remaja.

Budi Putra

Pembicara terakhir dari acara ini adalah Budi Putra, seorang blogger profesional, bahkan mendapat predikat blogger pertama di Indonesia. Beliau kembali mengingatkan pada blogger untuk terus membuat konten yang berkualitas. Blogger itu bukan hanya sekedar orang yang punya blog, tapi juga mampu secara profesional mengedukasi masyarakat melalui tulisan-tulisan bermanfaat. Beliau juga menghimbau blogger untuk ambil bagian dalam rangka menjadikan Indonesia Sehat jiwa.

Bener banget ya, sampai sekarang ini saya juga masih berusaha konsisten untuk menghadirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat untuk pembaca.

Hospital Tour

Setelah puas mendapat berbagai informasi dari para pembicara kece, para blogger diajak hospital tour alias berkeliling Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan.
 
Hmm What do you think about it???
Serem??? ya awalnya saya juga mikir gitu, takut sama pasien disana yang kirain menyeramkan. Tapi ternyata nggak sama sekali. Bahkan saya amaze sendiri. Rumah Sakit Jiwa ini kok keren banget ya. Pelayanannya, fasilitasnya, bahkan penjagaannya semua oke. 


dr. Safitri

Para Blogger diajak berkeliling oleh dr. Safitri, hampir ke semua sudut rumah sakit, mulai dari ruangan Day Care (ruang untuk aktivitas sehari-hari pasien), laboratorium, ruang tamu, ruang musik, sampai ke kantinnya. 

Jadi, pasien di RSJ Soeharto Heerdjan ini dibagi menjadi 3 tahapan. Tahapan Pertama, pasien diseleksi terlebih dahulu. Proses seleksi ini dilakukan sampai 5 kali. Untuk menentukan perawatan dan proses rehabilitasi yang tepat. Misalnya pasien dengan gangguan jiwa berat. Nah, disini pasien dirawat dan diterapi dengan teknik yang berbeda dengan gangguan jiwa ringan. Biasanya pasien dengan gangguan jiwa berat ditempatkan diruang khusus dan terpisah dengan pasien tahapan lain. 

Tahapan kedua, Pasien dievaluasi sebanyak 20 kali. diberikan berbagai macam terapi. kemudian Tahapan ketiga, yaitu mandiri. Tahapan ini dilakukan hingga 60 kali. Pasien diberikan berbagai macam kegiatan sebagai bentuk terapi, di antaranya, menjahit, menyanyi, olahraga, merajut, melukis dan lain-lain. Hingga siap pulang kerumah dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Hasil kreasi pasien RSJ Soeharto Heerdjan

Lukisan Kreasi Pasien RSJ Soeharto Heerdjan

Hasil karya pasien rehabilitasi RSJ Soeharto Heerdjan

Bagaimana dengan Biaya Perawatan di RSJ Soeharto Heerdjan?

Jangan khawatir, semua tahapan yang sudah saya jabarkan di atas itu FREE alias gratis jika pasien memiliki kartu BPJS. Bahkan RSJ Soeharto Heerdjan juga bersedia menjemput pasien deng,an ambulans. 

Semua hal di atas, terus konsisten dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dalam rangka menjadikan Indonesia dan Ibukota Jakarta tercinta sehat jiwa. Dan salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat adalah dengan menerima dan memberikan tempat dalam masyarakat terhadap 'mantan' pasien gangguan jiwa. 

Sejarah Singkat Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta

Rumah Sakit ini didirikan berdasarkan keputusan Kerajaan Belanda (Koninklijkbesluit) pada tanggal 30 Desember 1865 No. 100 dan berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal (Gouverneur General) tertanggal 14 April 1867. Namun pembangunannya baru dimulai pada tahun 1876. 

Untuk menghilangkan stigma masyarakat, maka pada tahun 1973 Rumah Sajit Jiwa Grogol diubah namanya menjadi Rumah Sakit Jiwa Jakarta kemudian pada tahun 1993 diubah lagi namanya menjadi Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta dan terakhir pada tahun 2002 menjadi Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan sampai dengan sekarang. Selain itu RSJ Soeharto Heerdjan juga terus konsisten menjadikan Masyarakat Jakarta sehat jiwa sehingga nggak heran kalau RSJ Soeharto Heerdjan ini memiliki predikat A karena pelayanannya yang paripurna. 


Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan
Jalan Prof. Dr. Latumeten No. 1 Jakarta 11460
telp (021) 5682841

Saran saya, untuk yang sedang punya masalah berat, dan ga tahu mau kemana, atau bahkan terindikasi adiksi internet. Nggak ada salahnya untuk konsultasi ke Psikolog di RSJ Soeharto Heerdjan, selain dapat penyelesaian yang tepat juga menghidari kita dari depresi dan gangguan jiwa. #SALAMSEHATJIWA dari sayaa ^_^

9 comments:

  1. Aku baru tau neng ttg rumah sakit ini, aku tau nya rumah sakit jiwa ya hanya grogol ajh ternyata namanya bukan grogol ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Bunda Leha, iya bunda namanya memang dulu RSJ Grogol, tapi terus berubah menjadi RSJ Soeharto Heerdjan 😄😊

      Delete
  2. Hidup ini di bawa santai aja ya mba, melihat banyaknya kasus di TV banyak yang depresi, stress dll harus banyak istigfar. Semoga kita terhindar dari gangguan sakit jiwa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mba Ria.. betul banget, enjoy your life itu kuncinya yaa mba, selain itu juga harus banyak bersyukur dan beristigfar biar selalu sehat jiwa :)

      Delete
  3. Saya addictid juga sama internet, yah loh

    ga perlu masuk ke sana kan bun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Bunda Anisa, hmm mungkin karena pekerjaan bunda yang memang seorang blogger jadi harus terus mengunakan internet ya bun?? menurutku sih itu ngga masuk kategori adiksi internet hehehe

      Delete
  4. gangguan jiwa mungkin juga disumbang oleh isu isu politik yang akhir akhir ini sangat menguras energi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mas Budiono, betul banget nih, sensitivitas politik lagi tinggi banget ya.. harus bener bener di rem dari diri sendiri.

      Delete
  5. Aduh, serem ya mbak, karena nggak bisa dipungkiri lagi bahwa internet sudah menjamur ke anak-anak, bahkan usia balita pun kadang sama orangtua sudah dikenalkan dengan internet. Saya juga hobi main internet, tapi buat share pengetahuan yang baru saya dapat, nyari informasi lomba nulis dan tentunya berinteraksi dengan teman penulis yg di luar dari daerah tempat tinggal saya. Apa itu termasuk addictid terhadap internet gak ya?

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D