Monday, September 10, 2018

Antara Gadget, Anak dan Sekolah Internasional Terbaik di Jakarta

 

“Mengurus anak di era sekarang ini gampang-gampang susah”, keluh temanku beberapa waktu lalu.

Setelah ditanya alasannya, tidak lain dan tidak bukan karena pengaruh gadget dan lingkungan. Anak-anak sekarang cenderung berubah pola pikir dan karakternya mengikuti apa yang sering ia lihat dan ia dengar melalui gadget.

Dalam hati aku bergidik ngeri. Sebegitu bahayanya kah gadget bagi anak-anak?
Hal itu kemudian yang membuat aku tertantang untuk tahu lebih jauh tentang gadget dan pengaruhnya pada anak-anak. Dan bersyukur rasanya, aku bisa mendapatkan informasi langsung dari pakar ternama terkait hal ini.
Beberapa waktu lalu, aku diundang oleh Blogger Perempuan, untuk mengikuti workshop parenting dengan tema “Raising Children in Digital Era”. Bertempat di Singapore Internasional School Bona Vista, aku dan para blogger perempuan lainnya diajak memahami dan mendalami tentang perubahan anak sekarang yang berkaitan dengan dunia digital.

Psikolog Elizabeth Santosa

Bagaimana sih karakteristik anak di era digital?
Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Elizabeth Santosa, kurang lebih ada 7 karakteristik anak d era digital sekarang ini, yaitu:
• Memiliki ambisi besar untuk sukses
• Generasi baru mencintai kepraktisan
• Berperilaku instan – speed
• Cinta kebebasan
• Percaya diri
• Keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan
• Digital dan teknologi informasi

Ketujuh karakteristik itu yang harus dipahami orang tua, agar mereka bisa menyesuaikan dan tentunya lebih mudah mengarahkannya.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya, di era digital seperti sekarang, berbahayakah gadget untuk anak-anak?
Jawabannya adalah tidak.

Gadget saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan. Semuanya dapat terkoneksi satu sama lain. Gadget dibaratkan sebagai asisten manusia yang membantu kita dalam banyak hal. Lalu di era yang serba digital seperti sekarang, apakah kita akan membuat anak kita tertutup dari hal itu? Tentu tidak kan?

Gadget sesungguhnya tidak berbahaya, yang berbahaya justru kita yang menolaknya atau membebaskannya.

Gadget ibarat makanan, yang harus diberikan sesuai porsinya. Jika diberikan sesuai dengan porsinya, ia akan membuat anak lebih cerdas dan berkembang serta tidak tertutup dari dunia luar.

Namun yang perlu diingat, kita harus selalu mendampingi dan memberi kontrol. Jangan sampai gadget yang kita berikan malah menjerumuskan anak padah hal-hal yang tidak baik.

Pertanyaan lain kemudian muncul, kalau memang gadget baik untuk diperkenalkan pada anak, lalu kenapa banyak anak yang kemudian kecanduan games, atau berubah menjadi gadget freak?

Jawabannya tentu kembali pada sang orang tua. Seberapa bebas mereka memberikan gadget pada anaknya? Pernahkah mereka melalukan kontrol sebelum hal itu terjadi. Menurut Psikolog Anak dan Remaja Elizabeth Santosa, tidak ada yang terjadi tiba-tiba. Anak ibarat kertas putih yang masih bersih dan kosong. Orang tualah yang menjadi pena pertama yang mengisi lembaran putih itu.

Kalau orang tua menggoresnya tidak dengan hati-hati maka bukan tidak mungkin kertas itu akan menjadi robek ya kan?

Jadi, jawabannya adalah bukan gadget yang berbahaya tetapi sikap dan kebebasan yang diberikan orang tualah yang membuatnya jadi berbahaya.

Yang perlu diingat adalah berapa banyak anak-anak yang kini meraih prestasi dan memberikan kontribusi yang berarti untuk dunia melalui penemuannya dalam dunia digital? Banyak sekali. Itulah salah satu bukti bahwa gadget dapat memberikan pengaruh positif pada anak. Bahkan membuat anak mencetak prestasi.

School Tour SIS Bona Vista

Di kesempatan kemarin, aku dan teman blogger yang lain diajak berkeliling Singapore School Bona Vista. Sepanjang berkeliling aku berdecak kagum, melihat betapa lengkap fasilitas yang disediakan, dan betapa menyenangkan proses belajar di sana. Saat sedang khusuk memperhatikan, tiba-tiba ada 2 orang anak yang menghampiriku. Dengan ramah ia menyapa.


“Hai, I’m Nanako”
“Oh, Hai Nanako”, jawabku sambil tersenyum
“What are you doing here?”, tanyanya ramah
“Visiting your school, oh ya, i’m Novita”
“Whats? Nobita???” ucapnya sambil tertawa lepas
“Yeah, i’m Doraemon’s Friend” dan kami pun tertawa bersama-sama

Nanako kemudian memperkenalkanku pada teman-temannya dan kami mengobrol bersama. Sayangnya Nanako harus melanjutkan aktivitasnya belajar. Sebelum mengakhiri perbincangan, Nanako memegang tanganku dan mengucapkan salam.

Mengobrol dengan Nanako tadi, lantas membuat aku berpikir. Anak-anak itu begitu ramah terhadap orang baru. Mereka tidak malu untuk menyapa dan bertanya tentang hal yang mereka ingin tahu. Berbeda sekali dengan anak-anak kebanyakan yang cenderung pasif.

Dari situ, aku dapat menyimpulkan bahwa pola pengajaran yang baik, tentu akan membentuk karakter yang baik pula pada anak. Terlihat dari mereka yang pemberani dan memiliki critical thinking yang tinggi.


Dalam perbincanganku dengan Miss Monica, memang SIS Bona Vista memiliki kurikulum yang juga mengedepankan praktek bukan hanya sekedar materi. Bukan hanya itu saja, SIS Bona Vista juga memiliki 3 bahasa utama, yaitu bahasa Mandarin, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Bahasa Mandarin dan Inggris dijadikan sebagai bahasa utama mengingat siswanya mayoritas expatriate.

Bahkan bukan hanya 3 bahasa utama yang digunakan, SIS Bona Vista juga memiliki 3 kurikulum yang dijalankan, yaitu Singapore, Cambridge, dan IB. Dalam hati aku bergumam, pantas saja sekolah ini keren, karena bukan hanya fasilitas dan pengajarnya saja, tapi juga kurikulum yang digunakan.


Berkeliling SIS Bona Vista, aku makin yakin kalau interior yang nyaman dan berwarna-warni mampu membangkitkan imajinasi. Setiap sudut ruangan di SIS Bona Vista di desain begitu nyaman untuk anak-anak belajar. Fiks, SIS Bona Vista masuk dalam sekolah idaman tempat anak-anakku kelak menuntut ilmu.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D