Sunday, September 30, 2018

Bener Nggak Sih Integrasi Tol JORR Bisa Atasi Kemacetan?


Udah bayar tol mahal-mahal kok masih aja macet sih??

Aku sering banget denger keluhan itu baik secara langsung ataupun di medsos. Memang saat ini pemerintah masih terus menata sistem tranportasi agar kita tidak melulu terjebak dalam kemacetan.

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah tersebut tentunya bertujuan untuk menciptakan sistem transportasi nasional yang efektif dan efisien untuk memperlancar mobiltas manusia, barang dan jasa.

Di sektor jalan tol, dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan tol dan mendukung sistem logistik nasional, pemerintah menerapkan kebijakan integrasi transaksi tol sebagai tahapan menuju transaksi tol menerus atau multiple lane free flow (MLFF) yang akan diberlakukan pada tahun 2019.

Integrasi tol tersebut telah dilakukan di empat ruas tol yaitu:

  • Jakarta – Palimanan – Brebes Timur (2016)
  • Jakarta – Tangerang – Merak (2017)
  • Jakarta – Bogor – Ciawi (Jagorawi)
  • Tol Semarang seksi ABC (2018)


Kebijakan tersebut akan dilanjutkan pada ruas tol lainnya, salah satunya di Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) yang akan efektif berlaku pada tanggal 29 September pukul 00.00 WIB.


Integrasi tol JORR tentunya bertujuan untuk meningkatkan standar pelayanan jalan tol seperti kemantapan jalan, kecepatan tempuh dan antrean transaksi tol.

“Intergasi transaksi tol JORR bertujuan meningkatkan pelayanan dan mendukung sistem logistik nasional agar lebih efisien dan berdaya saing. Sosialisasi terus dilakukan sebelum diberlakukan yakni paling lambat akhir bulan semtember 2018,” unkap Basuki Hadimuljono Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sebelum diberlakukan efektif pihak Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), yaitu PT. Jasa Marga, PT. Jakarta Lingkarbarat Satu, PT. Marga Ligkar Jakarta, dan PT. Hutama Karya melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Hal tersbut penting dilakukan agar masyarakat mengetahui tujuan kebiajakan integrasi tol adalah peningkatan pelayanan jalan tol bukan merupakan kenaikan tarif tol untuk memberikan peningkatan keuntungan kepada BUJT.

Transaksi tol pascaintegrasi akan menjadi sistem tranksasi terbaru di mana penggunaan tol hanya melakukan satu kali transaksi pada gerbang tol masuk (on - ramp payment). 


Sebelumnya tol memang masih menggunakan sistem transaksi tertutup, di mana pengguna tol harus melakukan 2 -3 kali transaksi untuk menggunakan tol JORR sepanjang 76 km yang terdiri dari 4 ruas tol dan dikelola oleh badan usaha jalan tol (BUJT) berbeda.

Sebagai konsekuensi dilakukannya integrasi tol, maka tentu terjadi perubahan tarif, di mana tarif yang digunakan adalah tarif rata-rata ruas tol tersebut dikaitkan dengan pengunaan rata-rata jalan tol tersebut. Untuk pengguna tol JORR jarak jauh akan diuntungkan dari perubahan tarif dibandingkan dengan pengguna tol jarak dekat.
Memang yang harus kita sadari kebijakan publik yang dilakukan pemerintah tentu tidak bisa menyenangkan semua pihak. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah kebijakan tersebut harus bisa memprioritaskan yang seharusnya. Dan dalam hal ini angkutan logistik.

Sebagai informasi, dengan adanya integrasi, penggunaan tol JORR sepanjang 76 km akan dikenakan satu tarif, yakni Rp.15.000 untuk kendaraan Golongan I, Rp.22.500 untuk kendaraan Golongan II dan III, dan Rp.30.000 untuk Golongan IV dan V.

Saat ini, untuk kendaraan dari Simpang Susun Penjaringan yang menuju Tol Akses Pelabuhan Tanjung Priok, Golongan I membayar sebesar Rp. 34.000, sedangkan kendaraan Golongan V sebesar Rp. 94.500. Sehingga dengan pemberlakuan integrasi transaksi tol JORR, akan terdapat penurunan tarif tol, yaitu tarif Golongan I turun sebesar Rp. 19.000, sedangkan Golongan V turun sebesar Rp. 64.500.

Dalam diskusi kemarin, apresiasi dan rasa terimakasih juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Aptrindo (Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia), Johannes Samsi Purba karena kebijakan ini sangat menguntungkan para pengusaha dan supir truk.

Menurutnya, Integrasi tol, merupakan bagian dari integral mengurai transportasi lalu lintas yang lebih profesional dan modern. Dan dampaknya akan sangat besar bagi para pengusaha transportasi.

"Dampak nyata yang terjadi adalah logistik dari cost kita sangat terbantu karena sudah banyak diturunkan. Karena itu, kami sangat mendukung kebijakan Integrasi Tol ini. Karena sebenarnya, sudah lama kami menunggu. Kalau tidak salah, seharusnya bulan Juni sudah diberlakukan, tapi baru saat ini bisa diterapkan," ungkap Johannes.

Menurut Johannes, bukan tanpa alasan para pengelola jasa transportasi, salah satunya truk, mendukung kebijakan integrasi tol. Menyusul, sudah cukup intensif diskusi dan kajian terkait hal ini dengan berbagai pihak.

"Kami sangat mendukung karena kebijakan ini akan menurunkan cost logistik. Karena ini ada penyesuaian. Jadi buat kami ini sebenarnya bahasanya adalah ada penurunan," jelas Johannes.

Dengan integrasi tol, sudah bisa dipastikan volume kendaraan juga akan banyak menurun. Karena volumenya menurun, menurut Johannes, jarak tempuh juga akan lebih cepat. Dan ini merupakan keuntungan berikutnya lagi.

"Kita juga berharap, dengan adanya penyesuaian ini ada rasionalisasi dan sosialisasi di masyarakat sehingga akan berpikir ulang untuk menggunakan transportasi pribadi," ujar Johannes.

Di akhir diskusi, para narasumber menekankan bahwa integrasi tol JORR tentunya ditujukan untuk keuntungan publik agar proyeksi kondisi lalu lintas Indonesia di tahun 2029 sama seperti di Singapura.


No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D