Tuesday, October 2, 2018

Ketika Sinergitas dan Kreativitas Berpadu dalam KriyaNusa 2018


Budaya Indonesia. Satu hal yang bikin aku cinta dengan negara tempat aku dilahirkan. Mulai dari makanan, adat kebiasaan, hingga desain pakaian. Indonesia dengan keanekaragaman budayanya, tampak indah dalam perbedaan. Nggak heran kalau muncu istilah Beauty in Diversity.

Nah, ngomongin soal keindahan kebudayaan Indonesia, beberapa waktu lalu aku menghadiri pameran KriyaNusa 2018 di Jakarta Convention Center. Pameran yang mengangkat tema “Tingkatkan Sinergitas & Kreativitas Wirausaha Milenial” ini digelar dari tanggal 26-30 September 2018.

Dari pameran itu, aku mengenal motif Pucuk Rebung, kerana itu adalah ikon dari Aceh yang diusung Dekranas sebagai dasar desain publikasinya. Walau baru pertama kali mengenalnya, aku kok merasa suka ya. Melihat motif pucuk rebung seperti ada makna mendalam yang tersirat di dalamnya.

Ternyata makna dari motif pucuk rebung adalah sebagai lambang kehidupan yang berguna. Rebung adalah anak atau bambu muda yang biasa dijadikan bahan sayuran atau gulai.

Evolusi bambu dari muda hingga tua itulah yang mencerminkan proses kehidupan manusia menuju pribadi yang bermanfaat. Dan bila ditarik pada garis kehidupan manusia, rebung disejajarkan dengan balita yang harus dirawat dengan baik.


Tidak berhenti sampai disitu, lagi-lagi aku dibuat takjub kala menyaksikan gelaran pameran busana. Aku percaya keindahan busana tidak melulu ditampilkan dengan ‘keseksian’. Nyatanya busana-busana khas Aceh dan Sumatera Barat yang menutup aurat juga mendapat sambutan yang meriah dan antusiasme yang tinggi dari penonton yang hadir.

Pameran busana Kriyanusa 2018 adalah bentuk kerjasama yang indah para desainer dengan pengrajin di daerah. Hal itu bertujuan untuk mengedukasi pengrajin untuk memperkenalkan hasil kerajinan daerahnya kepada masyarakat luas. Tahun ini daerah yang bekerja sama dengan para desainer adalah: Sintang, Sabu, Cual, Donggala, Tuban, dan Ulap Doyo. Desainer-desainer tersebut antara lain: Naniek Rahmat, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Didit Maulana, dan Carmanita.

Pameran KriyaNusa 2018 diikuti oleh Dekranasda seluruh Indonesia yang memfasilitasi perajin di wilayahnya masing-masing. Tak hanya itu sejumlah BUMN dan Kementerian juga memfasilitasi mitra binaanya untuk terlibat sehingga terdapat 313 stand kriya dan 21 stand kuliner. Stand-stand tersebut terdiri dari 172 stand Dekranasda, 37 stand Kementrian & BUMN, 76 perajin individu, dan stand ikonik serta desainer.

Usai pameran busana selesai, aku dan teman-teman lain berkeliling area stand. Asli aku naksir banget kerajinan tas asal Kalimantan. Nuansa etniknya kental dan tetap menonjolkan keindahan dan feminimitas. Motif wanita suku Dayak pada tas itulah yang menjadi daya tariknya.


Ah, berkeliling di sana memang nggak cukup sebentar. Butuh waktu seharian atau bahkan beberapa hari untuk menikmati berbagai keindahan budaya Indonesia yang dipamerkan.

Menurutku, pameran ini bagus banget diadain. Selain untuk memajukan ekonomi masyarakat, juga bisa menumbuhkan rasa cinta pada budaya dan produk dalam negeri. Terbukti lho, produk khas budaya Indonesia nggak kalah keren dari produk luar. Kalau disuruh pilih, aku sih jelas pilih produk dalam negeri yang kental unsur budaya dan etniknya.

Di Pameran Kriyanusa 2018 ini nggak hanya fashion aja, ada kuliner dan furniture yang ikut dipamerkan. Jadi ajak pasangan ke sana masih okelah. Dia nggak bakal bete, karena bisa liat-liat furniture atau outfit untuk pria.


For your information, acara ini tuh gratis alias nggak dipungut biaya masuk. Jadi kamu nggak perlu berhitung biaya untuk ajak kakak, adik, mama, papa, om, tante, dan sahabat ya. Btw, apa sih kerajinan khas daerah di Indonesia yang paling kamu suka? Share di kolom komentar ya ^_^

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D