Wednesday, October 24, 2018

Lepaskan Emosi dan Lejitkan Potensi dengan Access Conciousness dan Access Bars


Pernah punya bad feeling sama seseorang?
Aku pernah, bahkan beberapa kali. Entah kenapa, kadang bad feeling itu muncul dan kuat sekali rasanya. Padahal tanpa ada alasan yang jelas. Feelingku seolah berkata orang itu punya karakter yang tidak baik, dan membawa pengaruh buruk untukku.

Jujur, aku bingung sekali menanggapinya. Beberapa kali curhat dengan teman, mereka bilang aku jangan terlalu anggap serius. “Kamu nggak boleh su’udzon dulu, itu hanya perasaan aja. Kan belum kenal deket”, ungkap mereka. Tapi entahlah, hatiku tetap berkata lain. Dan tidak bisa dipungkiri pada akhirnya, temanku mengakui feelingku itu benar. Bisa dibilang hampir 100% tepat.

Dan makin ke sini, aku menganggap itu sebagai sebuah sign, agar tetap mawas diri. Tapi jujur, masih ada perasaan yang mengganjal apakah yang aku lakukan ini benar? Atau justru salah besar? Aku juga berusaha mencari penyebab kenapa aku bisa punya bad feeling seperti itu. Hmm, aku rasa, hal itu berasal dari trauma besar yang aku alami.

Masa remajaku berbeda dengan masa remaja anak-anak pada umumnya. Orang tuaku bercerai saat aku membutuhkan sosok panutan. Namun, bukan itu yang membuatku terluka. Justru aku merasa itulah jalan keluarnya. Pertengkaran dan permasalahan di dalamnyalah yang menjadi dasar traumaku.

Terlebih, saudara yang kupunya seolah tak mengulurkan tangannya untukku. Mereka malah kerap mengejek dan menjadikan permasalahan orang tuaku sebagai bahan olok-olokan. Kejadian-kejadian itu kemudian membuatku berprinsip “Semakin banyak berinterasi dengan orang lain, hanya akan membuka peluang mereka menyakitiku”.

Percaya atau tidak, pada akhirnya aku peka terhadap orang dengan bad character dan kemudian menghidari mereka. Bukan hanya itu saja, aku bahkan bisa saja meninggalkan teman atau sahabat, jika aku merasa dikecewakan.

Karena sering merasakan sakit, bisa dibilang hatiku ini sensitif. Mau dibilang baperan, Terserah! Menurutku hatiku ini cuma satu, jika aku tidak menjaganya dari orang-orang yang menyakitiku. Lantas siapa lagi?

Dalam berhubungan dengan siapapun, sebisa mungkin aku menjaga perasaan mereka misalnya saja, tidak menyinggung fisik, tidak menyampaikan curhat dan keluh kesah mereka ke orang lain, dan sebagainya. Tapi tidak semua mengerti itulah rules dalam berteman. Maka, jika aku dikecewakan aku lebih memilih untuk berpisah jalan.

Aku sendiri, tidak tahu apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak. Sampai kemudian aku mengikuti Access Conciousness dan Access Bars. Dua metode ini ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan, yang pada akhirnya merubah sudut pandangku.

Pengalaman Mengikuti Access Conciousness dan Access Bars 

Fasilitator Kak Ayu (kiri) dan Coach Fena (kanan)

Access Conciousness atau aku biasa menyingkatnya AC adalah sebuah alat atau cara dalam menggunakan sudut pandang yang berbeda mengenai kehidupan. AC memungkinkan siapapun mengubah kondisi dan menciptakan sesuatu yang bisa membuat kehidupan menjadi lebih baik dengan cara yang berbeda dan tentunya selaras dengan alam semesta.

Di kesempatan kemarin, aku bukan hanya mengenal AC tapi juga mengenal Coach Fena. Selepas Coach Fena menjelaskan tentang Access Conciousness, aku tak mau melewatkan kesempatan untuk bertanya. Apakah bad feeling yang selama ini aku rasa itu salah? Apakah keputusanku untuk menghindari seseorang yang aku rasa buruk itu juga salah?

Dan jawaban Coach Fena sungguh menenangkan hatiku. Ia tidak lantas mengatakan aku salah atau aku benar. Tapi ia membuat aku berpikir lebih jauh, bagaimana batinku sebenarnya. Ringankah melakukannya atau justru sesak?

Coach Fena kemudian memberikan pemahaman, bahwa apa yang aku rasa itu karena aku bisa menangkap getaran negatif mereka. Dan jika aku membencinya, maka aku akan terus berada dalam circle itu, alias akan sering bertemu dengan orang-orang seperti itu. Dan kini aku menyadarinya.

Ternyata, mungkin inilah jalan Allah atas pertanyaanku selama ini. Rasanya sebuah rezeki besar, aku bisa mengikuti Access Conciousness dan Access Bars. Coach Fena kemudian menganjurkan untuk terima saja getaran negatifnya, tapi jangan membencinya. Karena dengan membencinya, bukan tidak mungkin aku bisa saja memiliki getaran negatif juga, Astagfirullahaladzim.

FYI, tujuan Access Conciousness adalah untuk membuka pandangan mengenai begitu banyak harapan dan segala bentuk kemungkinan yang ada di dunia dengan kesadaran sejati dan keselarasan diri (tubuh dan jiwa) terhadap alam semesta dan sang Pencipta, di mana segala sesuatu ada dan tidak ada yang dihakimi.


Menurutku, apa yang Coach Fena jelaskan bukanlah sebatas teori belaka. Apa yang aku tanyakan dan utarakan dijawabnya dengan aplikasi dari Access Conciousness. Karena pada dasarnya AC adalah bukan tentang benar atau salah, baik atau buruk, namun tentang sesuatu yang kita tahu dan dapat kita pilih sehingga kita dapat mengubah suatu kondisi menjadi lebih baik lagi.

Selesai mendapat penjelasan tentang Access Conciousness aku kemudian berkenalan dengan Facilitator Kak Ayu yang kemudian memaparkan tentang apa itu Access Bars. 

Access Bars adalah proses sirkulasi energi elektromagnetik dalam tubuh dengan melakukan sentuhan lembut di 32 titik yang ada di bagian kepala, sehingga dapat melepaskan segala bentuk hambatan dalam diri baik secara sadar maupun tidak sadar serta menselaraskan energi yang ada di tubuh, jiwa, alam semesta dan sang pencipta.


Facilitator Kak Ayu juga menjelaskan Access Bars membantu membuka diri kita dari polaritas, rasa terpenjara, pengkondisian, dan keterbatasan atas buah pemikiran, perasaan dan emosi yang menghambat kita untuk bisa melihat dan menerima informasi dengan lebih cerdas.

Di kesempatan kemarin, akhirnya aku bisa cobain gimana rasanya di bars. Dan Kak ayu langsung yang mem-barsku. Saat di Bars, jujur aku pasrah. Nggak ada ekspektasi atau perasaan apapun. Semuanya aku pasrahkan saja.

Sambil di bars, aku juga berdiskusi lebih dalam dengan Kak Ayu tentang apa yang sering aku rasa dan aku alami. Dan amazingnya, Kak Ayu memberikan pemahaman yang lagi-lagi dapat diterima oleh hati dan pikiranku.


Bad feeling yang aku alami, boleh saja diikuti, namun tanpa labeling. Kalau aku tidak mau berteman dengan seseorang, ya semata-semata hanya karena aku tidak mau berteman. Tidak kurang dan tidak lebih. Jangan melabeli, karena dia jahat, karena dia tidak baik, dan sebagainya. Dan kini aku tenang sekali. Aku menemukan jawaban yang selama ini aku cari.

Beberapa saat setelah diskusi, proses bars masih berlangsung. Aku kemudian memejamkan mata, meresapi proses bars yang dilakukan. Saat memejamkan mata entah kenapa bayangan yang terlihat berwarna ungu dan hitam. Kemudian kuping sebelah kiriku terasa sedikit panas, dan air mata menetes tanpa kusadari.

Menurut Facilitator Kak Ayu, itu adalah efek bars yang aku rasakan. Dan setiap orang tidaklah sama. Seperti temanku, ia merasa kesetrum dan itu terjadi berulang-ulang, ada pula yang mengantuk bahkan tertidur.

Selesai bars, aku merasa lebih ringan dan dalam kondisi yang baik moodnya. Temanku pun mengakuinya. Aku lebih ceria dari biasanya dan bisa bercanda dengan asik.

Menurutku, Access Conciousness dan Access Bars wajib banget dicoba untuk kamu yang mau terbebas dari belenggu masa lalu dan melejitkan potensi yang kamu miliki. Aku sendiri udah merasakan perbedaannya dan ketagihan mau belajar ^_^



No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D