Thursday, February 14, 2019

Gelombang Wakaf, Agar Hidup Tak Terombang-ambing Penyesalan


Hidup yang bahagia adalah hidup yang tanpa penyesalan. Di postingan sebelumnya sudah aku ceritakan betapa aku punya penyesalan terbesar dari hidup yang sampai sekarang masih menyisakan luka di hati.

Sebuah penyesalan yang mungkin susah sekali untuk ditebus. Aku belum bisa membahagiakan nenek hingga akhir hayatnya. Nenek yang sudah seperti orang tua kandungku telah berpulang beberapa tahun lalu, saat usiaku masih terbilang belia. Sehingga tidak ada daya dan upaya untukku membahagiakannya.

Sepeninggal beliau hatiku rasanya hancur. Seolah separuh jiwaku hilang bersama kenangan indah tentang almarhumah. Setiap solat tak alpa aku berdoa untuk beliau, seraya meminta maaf karena belum bisa membahagiakannya.

Hingga aku bertekad untuk membangunkan beliau sebuah masjid yang akan menjadi amal soleh beliau. Setiap hari mimpi membangun sebuah masjid untuk nenek terus kupelihara. Karena aku yakin, setidaknya itu adalah salah satu cara membahagiakan beliau di sana.

Namun, membangun sebuah masjid bukanlah perkara mudah. Entah butuh berapa tahun untukku bekerja keras mewujudkannya. Namun aku juga tak ingin harapan itu pupus hingga menyebabkan penyesalan yang baru.

Sampai beberapa waktu lalu, aku bertemu sebuah solusi yang bisa mewujudkan impianku membahagiakan nenek. Gelombang Wakaf melalui Rumah Zakat. Ya, kenapa aku tidak coba berwakaf melalui Rumah Zakat yang sudah menjalankan program-program luar biasa termasuk soal pembangunan masjid?

Rumah Zakat Luncurkan Gerakan Gelombang Wakaf


Selasa, 12 Februari lalu aku hadir di acara launching Gelombang Zakat yang diprakarsai oleh Rumah Zakat. Gerakan baru bertajuk ‘Gelombang Wakaf’ ini bertujuan untuk terus menebar kebaikan bagi Indonesia dan dunia. Peresmian gerakan ini menandakan langkah besar Rumah Zakat yang telah resmi dimulai untuk dapat mewujudkan visi menjadi filantropi kemanusiaan dan pemberdayaan.

Visi kemanusian ini akan diwujudkan salah satunya dalam bentuk rumah sakit, delapan klinik, dan 18 sekolah. Selanjutnya untuk pemberdayaan akan diwujudkan dalam 5.323 desa berdaya dan 200 hektar kebun produktif, serta 50.000 UMKM di seluruh Indonesia.

Gelombang Wakaf juga merupakan respon dari data yang dikeluarkan oleh BWI (Badan Wakaf Indonesia) yang menyebutkan bahwa potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 180 Triliun, sedangkan wakaf uang yang baru dimanfaatkan mencapai 400 Miliar di tahun 2018.


Semua itu bukan tanpa sebab, mengingat edukasi wakaf di Indonesia masih sangat minim. Terlebih bagi generasi millenial, pengetahuan mereka akan wakaf bisa dibilang sangat terbatas. Ditambah masyarakat saat ini hanya mengenal wakaf dalam bentuk harta tidak bergerak saja (yang identik dengan wakaf tanah dan bangunan).

Sebenarnya, wakaf itu tidak melulu harta tidak bergerak. Dalam aturannya, wakaf juga bisa berbentuk uang, emas, mobil dan barang lainnya yang bisa digunakan untuk kepentingan sosial. Bahkan apabila wakaf dikelola dengan baik oleh lembaga wakaf atau nazhir, hasil dari wakaf produktif tersebut bisa mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Jujur aja nih, akupun tahunya wakaf masih sebatas tanah atau bangunan untuk masjid, sekolah, panti asuhan. Nggak begitu paham akan namanya wakaf produktif, berupa uang ataupun barang lainnya.

Hal itu yang kemudian dijadikan oleh Rumah Zakat sebagai fokus campign Gelombang Wakaf, agar masyarakat terutama generasi millenial dapat teredukasi dan terlibat langsung dalam program wakaf yang telah dijalankan.


FYI, nggak seperti zakat, wakaf itu tidak ada batasan alias nisabnya lho. Siapa saja bisa berwakaf apa saja dan kapan saja. Asalkan harta yang digunakan didapat dengan jalan halal. Inilah yang kemudian menjadikan potensi wakaf sangat besar.

Wakaf jika dikelola dengan baik tentunya memberikan peluang besar untuk dijadikan sebagai sumber yang menghasilkan produktivitas bagi masyarakat. Rumah Zakat juga telah membuktikan perannya dalam masyarakat melalui kiprahnya selama 20 tahun ini, yang mampu memberdayakan 30 juta penerima layanan manfaat, membuat 18 sekolah dan 8 klinik.

Aku berharap ke depannya, akan dibangun juga masjid di beberapa daerah yang masih minim rumah ibadah kita. Sehingga aku bisa mewujudkan cita-citaku membangunkan masjid untuk almarhumah nenek. Mungkin aku belum bisa membangunkan sebuah masjid lengkap untuk Nenek, tapi setidaknya, sedikit harta yang aku punya bisa menjadi sebuah wakaf produktif yang bisa kuatas namakan nenek demi menebus penyesalanku di masa lalu.

Ah, terimakasih Rumah Zakat. Semoga gerakan wakaf ini menimbulkan gelombang besar yang membawa manfaat baik untuk umat.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D