Wednesday, March 1, 2017

Karena Bahagia Bukan Tentang Kemampuan Tapi Kemauan


Bicara tentang kebahagiaan, siapa sih yang tidak ingin bahagia di dunia ini? Pasti tidak ada. Kenapa? Karena saya yakin bahwa tujuan hidup setiap orang pasti ingin mendapatkan kebahagiaan.


Kebahagiaan adalah hal yang paling dicari oleh manusia. Semua yang diinginkan manusia pasti berujung pada keinginan untuk bahagia. Contohnya: sepasang kekasih ingin menikah, karena dengan menikah mereka akan bahagia. Pengusaha ingin untung, karena dengan untung ia akan bahagia. Atlet ingin meraih juara, karena degan meraih juara ia akan bahagia. Banyak orang yang ingin sukses dan kaya, karena dengan sukses dan kaya akan bahagia. Bahkan kita semua ingin masuk surga, karena di surga ada kebahagiaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya kebahagiaanlah yang dicari setiap orang. Bukan pasangan, keuntungan, kekayaan, atau kesuksesaan. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin kita bahagia jika tolak ukur kebahagiaan yang kita gunakan tidak tepat?



Tolak Ukur Kebahagiaan yang salah.

Banyak orang yang menilai kebahagiaan hanya dari kemampuan. Kemampuan mencari uang, kemampuan mencari pasangan, kemampuan memelihara kecantikan/ketampanan, kemampuan intelektual, dan kemampuan lainnya.

Tapi benarkah kemampuan tersebut membuat kita bahagia??
Jawabannya adalah TIDAK!!!

Di kebun, seorang anak kecil memandang kagum pada pesawat yang terbang di atasnya dan memimpikan dapat terbang bersamanya. Tetapi, sang pilot dalam pesawat itu memandang kebun di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup,
Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Seandainya kekayaan memang menjamin kebahagiaan tentu orang-orang kaya akan menari di jalanan. Tapi nyatanya, hanya anak-anak miskinlah yang melakukannya.

Seandainya kekuatan adalah sumber kebahagiaan yang menjamin keamanan maka tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan. Tapi nyatanya, hanya mereka yang hidup sederhana yang bisa tidur nyenyak.

Seandainya kepopuleran dan paras menawan adalah sumber kebahagiaan yang membawa manusia pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti tidak terjebak pada kasus kawin cerai.


Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau kesuksesan hidupnya.



Penelitian tentang Kebahagiaan
Albert Einstein
Albert Einstein, siapa yang tidak kenal sosoknya? Melalui rumus E= MC2, wajahnya dinobatkan sebagai lambang kejeniusan. Bahkan 100 tahun setelah teorinya lahir, diperingati sebagai tahun fisika. Namanya bahkan diabadikan menjadi unsur kimia (Estenium) dan nama sebuah asteroid.

Namun, Michael Hert dalam penelitiannya meletakkan Einstein dalam jajaran orang paling berpengaruh di nomor 10. Kalau kita amati lebih dalam, ternyata orang yang berada dalam jajaran di atas Einstein adalah orang-orang yang meletakkan spiritualitas sebagai dasar kehidupannya, yaitu Nabi Muhammad, Nabi Isa, Budha dan Confusius. Artinya adalah orang-orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai spiritual punya pengaruh yang lebih besar dibandingkan orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai intelektual.

Warren Buffet terkenal di tahun 2010 yang lalu karena berhasil mengalahkan Bill Gates yang sudah 10 tahun menjadi orang terkaya di dunia. tidak banyak orang tahu. Dua tahun sebelum Warren Buffet menjadi orang terkaya, ia menyumbangkan 80% untuk kegiatan sosial (sekitar 300 T atau setengah APBN kita pada saat itu). Namun, ada sosok yang lebih hebat lagi, yaitu Abu Bakar As-Shidiq yang mendermakan 100% harta kekayaannya untuk islam. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari Warren Buffet dan Abu Bakar As-Shidiq? Bahwasannya orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai kebaikan bukan hanya punya pengaruh lebih besar, tapi juga rela berkorban lebih besar.

Edmund Hillary dan Tenzing Norgay
29 Mei 1993, Edmund Hillary berhasil menjadi orang pertama yang menaklukkan Mount Everest, gunung tertinggi di dunia. 29.000 kaki di atas permukaan laut. Tidak banyak orang tahu, bahwa Edmund Hillary mendaki Mount Everest bersama seorang pemandu bernama Tenzing Norgay. Seorang pemandu yang namanya bahkan tidak dikenal sejarah. Padahal seperti kita tahu, bahwa seorang pemadu selalu berada di depan. Bukankah seharusnya pemandu-lah yang menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Mount Everst?. Faktanya sungguh menyentuh hati, Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak tertinggi di dunia, Tenzing Norgay mempersilahkan Edmund Hillary untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama yang menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Saat ditanya "Mengapa anda melalukan itu?", Tenzing Norgay menjawab, "Karena itu adalah impian Edmund Hillary bukan impian saya. Impian saya adalah mengantarkan Hillary meraih impiannya."

Bagi saya, Tenzing Norgay telah mengajarkan sesuatu tentang hakikat kebahagiaan yaitu sebuah ketulusan, pengorbanan, dan kebaikan.


Ibadah yang Memesona di Balik Orang-orang Besar


Beberapa tahun belakangan ini, setiap saya bertemu dengan orang-orang besar, saya selalu meminta nasihat kepada mereka. Saya tarik satu benang merah di balik nasihat dan kesuksesan mereka, yaitu 'Di balik orang-orang besar, senantiasa ada amal ibadah yang memesona'. mereka selalu membuat mata saya basah, kok ada ya orang sebaik ini? kok ada ya orang sehebat ini? 

Kini satu hal yang sadari. Tidak peduli seberapa hebatnya kita, seberapa kayanya kita, seberapa berpengaruhnya kita, jika hari ini kita tidak bahagia, pasti ada yang salah pada diri kita. Karena Kebahagiaan bukan tentang kemampuan, tapi kemauan. 


Special thanks for Dokter Gamal Albinsaid. Salah satu tokoh muda yang mendunia hingga mendapat penghargaan dari kerajaan Inggris. Betapa beruntungnya saya menjadi bagian dari Indonesia Medika, sebuah program yang Beliau gagas. Dari sana, saya mendapat banyak pelajaran berharga 😊😄

3 comments:

  1. Bener Mbak, Abu Bakar tanpa ragu menyerahkan seluruh hartanya, pernah denger juga. Aku sampai merinding. Ya bener kalu ukuran kebahagian hanya yg bersifat fana ya ngga bertahab lama juga ya. Semuanya bisa hilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba vina, bukan bahagia baru bersyukur, tp bersyukur dulu baru bahagia ya mba..

      Makanya sengaja buat tulisan ini sebagai catatan diri, soalnya kadang suka kurang mensyukuri apa yg Allah kasih T_T

      Semoga akan terus lahir Abu Bakar Abu Bakar ug lain ya mba

      Delete
    2. Iya mba vina, bukan bahagia baru bersyukur, tp bersyukur dulu baru bahagia ya mba..

      Makanya sengaja buat tulisan ini sebagai catatan diri, soalnya kadang suka kurang mensyukuri apa yg Allah kasih T_T

      Semoga akan terus lahir Abu Bakar Abu Bakar ug lain ya mba

      Delete

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D