Aku datang ke Indonesia Humanitarian Summit dengan perasaan campur aduk.
Bukan karena acaranya, tapi karena hidup belakangan ini memang terasa… berat. Timeline media sosial penuh kabar PHK, obrolan di grup keluarga makin sering bahas harga kebutuhan yang naik pelan-pelan tapi konsisten, dan di kepala kita semua seolah ada pertanyaan yang sama: “Ke depan, hidup bakal seaman apa, ya?”
Aku yakin, perasaan itu bukan cuma aku yang rasain.
Ketika Hidup Terasa Tidak Pasti
Beberapa tahun terakhir, dunia bergerak cepat tapi terasa goyah. Inflasi, konflik global, perubahan iklim, sampai gejolak ekonomi ikut mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Dampaknya mungkin tidak selalu terasa besar dalam satu waktu, tapi pelan-pelan menggerus rasa aman.
Di Indonesia, situasinya pun nggak jauh beda. Gelombang PHK masih terjadi, terutama di sektor manufaktur dan digital. Lapangan kerja makin kompetitif, sementara biaya hidup terus berjalan naik. Yang paling terasa, justru di kelompok yang selama ini kita sebut sebagai kelas menengah.
Mereka yang dulu relatif aman, sekarang mulai menghitung ulang pengeluaran. Tabungan yang terkumpul bertahun-tahun bisa habis hanya karena satu krisis kecil. Sakit, kehilangan pekerjaan, atau usaha yang tiba-tiba sepi.
Secara data, angka kemiskinan memang menurun. BPS mencatat, per Maret 2025 persentase penduduk miskin Indonesia berada di angka 8,47%. Angka yang di atas kertas terlihat optimis.
Tapi di lapangan, ceritanya tidak sesederhana itu. Banyak orang tidak masuk kategori miskin, tapi hidup dalam kondisi rentan. Tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi tidak cukup kuat untuk bertahan sendiri.
Dengan latar perasaan itu, aku datang ke Indonesia Humanitarian Summit 2025 tanpa ekspektasi muluk. Kupikir, ini akan jadi acara laporan tahunan dengan diskusi serius dan presentasi data.
Ternyata aku salah.
Mengusung tema “Empowerment to The Next Level”, acara ini justru mengajak peserta berhenti sejenak dan bertanya ulang: sebenarnya, apa makna membantu?
Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV tidak hanya bicara soal seberapa besar bantuan yang sudah disalurkan, tapi ke mana arah filantropi Indonesia seharusnya bergerak. Dan dari situlah obrolan menjadi relevan.
Empowerment to The Next Level: Dari Memberi Jadi Memberdayakan
Satu benang merah yang terasa kuat sepanjang acara adalah pergeseran fokus: dari sekadar memberi, menuju memberdayakan. Karena bantuan memang penting. Ia menyelamatkan orang di masa krisis. Tapi bantuan saja tidak cukup untuk memutus rantai kemiskinan.
Pemberdayaan bekerja dengan cara berbeda. Ia tidak instan, tidak selalu terlihat hasilnya dalam waktu singkat, dan sering kali butuh pendampingan yang panjang. Tapi di sanalah perubahan yang lebih berkelanjutan bisa tumbuh.
Helping people is necessary. But empowering them is transformative.
Kalimat itu terasa hidup ketika berbagai program pemberdayaan Dompet Dhuafa dipaparkan. Dari penguatan ekonomi berbasis komunitas, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga dakwah dan pelestarian budaya. Semua dirancang bukan untuk membuat penerima manfaat bergantung, tapi untuk memberi mereka alat, pengetahuan, dan kepercayaan diri.
Lewat sesi public expose, Dompet Dhuafa membuka kinerja pemberdayaan sepanjang 2025 secara terbuka. Bukan hanya deretan angka, tapi juga proses dan dampaknya. Apa yang berhasil, apa yang masih menjadi tantangan, dan ke mana arah program ke depan.
Di era ketika kepercayaan publik mudah runtuh, transparansi seperti ini terasa penting. Berbagai penghargaan yang diraih Dompet Dhuafa, mulai dari SDGs Action Award, Top Brand Award, hingga pengakuan dalam pengelolaan wakaf, tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari tata kelola yang serius, penerapan Good Corporate Governance, manajemen risiko, dan standar internasional.
Filantropi, di titik ini, tidak lagi bisa dikelola seadanya, tapi perlu profesional, akuntabel, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Acara kemudian lanjut ke sesi talkshow dan diskusi, yang tentunya menjadi salah satu bagian yang paling aku nikmati. Para pakar, akademisi, peneliti, hingga praktisi kemanusiaan berbicara dengan bahasa yang membumi. Tidak menggurui, tidak menyederhanakan masalah.
Kemiskinan dibahas sebagai persoalan struktural, sosial, dan ekonomi yang saling terkait. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak lagi ditempatkan hanya sebagai kewajiban personal, tapi sebagai instrumen sosial yang sangat strategis. Yang menarik, masyarakat tidak diposisikan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek perubahan.
Ketika Cerita Lapangan Bicara
Indonesia Humanitarian Summit tidak berhenti di panggung diskusi. Pameran program pemberdayaan memperlihatkan wajah lain dari filantropi. Cerita-cerita lapangan, produk hasil dampingan, hingga kisah komunitas yang perlahan bangkit, membuat konsep pemberdayaan terasa nyata.
Pentas seni dan budaya pun menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak hanya soal ekonomi. Ada identitas, martabat, dan rasa memiliki yang perlu dijaga. Karena hidup yang layak bukan hanya tentang bertahan hari ini, tapi juga tentang punya harapan untuk besok.
Aku pulang dari Indonesia Humanitarian Summit 2025 dengan pikiran yang lebih penuh, tapi juga lebih jernih. Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan sekarang bukan lagi, “Sudah seberapa banyak kita memberi?” Melainkan, “Sudah sejauh mana kita ikut menciptakan kemandirian?”
Di tengah dunia yang serba tidak pasti, filantropi tidak bisa berjalan setengah-setengah. Ia perlu naik level, lebih strategis, lebih kolaboratif, dan lebih berkelanjutan. Dan acara ini menunjukkan bahwa arah itu sedang dibangun. Pelan-pelan, dengan proses yang tidak selalu mudah, tapi dengan niat yang jelas.
Karena pada akhirnya, tidak ada manusia yang ingin dibantu selamanya. Yang kita semua cari adalah kesempatan untuk berdiri sendiri. Dengan martabat. Dengan harapan. Dan dengan masa depan yang lebih layak.













No comments:
Post a Comment
Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D