Kalau ditanya, apa hal paling seru yang aku lakukan minggu ini, jawabannya mungkin agak random.
Panen edamame.
Iya, edamame. Kedelai hijau yang biasanya cuma aku lihat sudah matang di mangkuk restoran Jepang 😂
Jumat kemarin aku berkesempatan datang ke Pesantren Tahfiz Green Lido (PTGL), Sukabumi, untuk menghadiri peluncuran Kebun Pangan Madaya, program terbaru dari Dompet Dhuafa. Awalnya kupikir acaranya ya seperti launching pada umumnya, ada sambutan, sesi foto, lalu pulang.
Eh ternyata kami diajak langsung masuk ke kebun. Dan di situlah pengalaman yang menurutku paling memorable dimulai.
Ternyata Panen Edamame Nggak Segampang Kelihatannya
Begitu masuk area kebun, suasananya langsung bikin adem. Banyak tanaman yang ditanam di sana, salah satunya edamame.
Aku baru tahu kalau selama ini yang kita makan itu ternyata satu batang bisa menghasilkan banyak polong kecil yang bergerombol. Kelihatannya simpel, tapi pas mulai memanen, aku jadi lebih paham kenapa hasil pertanian itu layak banget dihargai.
Karena ya... ternyata ada prosesnya.
Mulai dari menanam, merawat, menunggu sampai waktunya panen. Nggak bisa instan.
Lucunya lagi, selama ini aku sering beli edamame frozen tanpa pernah kepikiran, "Ini asalnya dari mana ya?"
Baru setelah memegang tanamannya langsung, rasanya jadi, "Oh... ternyata begini bentuk aslinya."
Hal kecil sih, tapi cukup membuka perspektifku.
Dari Kebun, Aku Baru Paham Kenapa Program Ini Menarik
Awalnya aku juga mengira Kebun Pangan Madaya hanya program yang mengajak masyarakat menanam sayur. Tapi setelah mendengarkan pemaparan dari tim Dompet Dhuafa, ternyata konsepnya jauh lebih luas dari itu.
Tahun ini, di usia ke-33, Dompet Dhuafa mengusung tema Transformasi Filantropi Hijau. Menurutku, tema ini menarik karena memperlihatkan bagaimana filantropi nggak lagi identik hanya dengan memberi bantuan. Sekarang pendekatannya lebih ke bagaimana bantuan itu bisa menjadi jalan agar masyarakat lebih mandiri.
Salah satu wujud nyatanya adalah melalui Kebun Pangan Madaya. Program ini mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang mungkin selama ini belum tergarap optimal—mulai dari pekarangan rumah, kebun komunitas, sampai lahan produktif lainnya, agar bisa menjadi sumber pangan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Yang aku suka, program ini nggak berhenti di aktivitas menanam. Masyarakat juga didampingi mulai dari proses budidaya, penguatan kelompok, sampai bagaimana hasil panennya bisa memiliki nilai jual. Jadi, tujuannya memang membangun ekosistem yang berkelanjutan, bukan sekadar panen sekali lalu selesai.
Menurutku, pendekatan seperti ini terasa lebih relate dengan kondisi sekarang. Di tengah harga pangan yang sering berubah dan berbagai tantangan ekonomi, punya kemampuan memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari lahan sendiri bisa menjadi langkah kecil yang dampaknya cukup besar.
Bahkan, sebelum peluncuran Kebun Pangan Madaya, Dompet Dhuafa juga telah mengembangkan program kebun sehat masyarakat melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) yang kini tersebar di 10 provinsi. Artinya, program ini bukan dimulai dari nol, tetapi menjadi kelanjutan dari upaya yang sudah berjalan selama bertahun-tahun.
Di sela acara, ada salah satu penerima manfaat yang berbagi cerita. Namanya Ibu Tusih. Beliau bercerita kalau kebun yang selama ini dikelola di PTGL sudah banyak membantu keluarganya. Sayuran bisa dipanen untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian hasil lainnya dijual.
Aku suka momen seperti ini.
Karena kadang angka-angka tentang "sekian penerima manfaat" memang penting. Tapi mendengar langsung cerita orang yang merasakan dampaknya selalu terasa lebih nyata.
Bukan Program Baru yang Dimulai dari Nol
Ternyata Kebun Pangan Madaya ini juga melanjutkan berbagai program ketahanan pangan yang sudah dijalankan Dompet Dhuafa sebelumnya. Melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC), mereka sudah mengembangkan kebun sehat masyarakat di 10 provinsi. Totalnya ada 13 kebun komunitas dan ratusan rumah tangga yang terlibat.
Jadi ketika program baru ini diluncurkan dalam rangka Milad ke-33 Dompet Dhuafa dengan tema Transformasi Filantropi Hijau, rasanya bukan sekadar menambah nama program baru, tapi memang melanjutkan apa yang selama ini sudah berjalan.
Biasanya kalau habis liputan, oleh-oleh yang kubawa pulang ya press kit atau goodie bag. Kali ini beda. Yang paling nempel justru pengalaman memanen edamame tadi.
Sesimpel itu, tapi bikin aku jadi lebih menghargai makanan yang setiap hari ada di meja. Dan aku juga jadi sadar, ternyata ketahanan pangan nggak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang cukup dari sebidang tanah kecil yang sebelumnya kosong. Atau bahkan dari rasa penasaran seseorang yang baru pertama kali turun ke kebun, seperti aku.
Kalau dipikir-pikir, siapa sangka berangkat ke acara launching, eh pulangnya malah jadi punya pengalaman pertama panen edamame.













No comments:
Post a Comment
Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D