Friday, April 27, 2018

...

Halodoc Bantu Para Ibu Hindari Kesalahan Pola Asuh Gizi pada Anak


“Ih, dedeknya lucu banget sih, bun. Sehat dan montok. Jadi, gemas deh!”. Ungkapan-ungkapan seperti itu seolah menjadi sebuah stigma di masyarakat bahwa anak yang montok alias gendut adalah anak yang sehat. Padahal faktanya, anak yang gendut belum tentu sehat, dan anak yang kurus (tidak gendut) bukan berarti tidak sehat.

Stigma yang salah seperti inilah yang harus diluruskan. Tentunya agar tidak terjadi pola asuh gizi yang salah pada anak. Nah, beruntungnya saya, menjadi bagian dari Mom Blogger Community, dapat hadir di acara yang terselenggara berkat dukungan dari Halodoc.

Bertempat di Dailycious Serpong, kami para mom blogger yang hadir diajak untuk mereview kembali sudah benarkah pola asuh gizi pada anak selama ini? Karena semua ibu tentu ingin memenuhi kebutuhan gizi buah hatinya dengan memberikan segala yang terbaik bukan? Namun, sering kali ibu tidak menyadari kalau ternyata pola pengasuhan gizi yang dijalaninya selama ini keliru.

Mom Bloggers Community dan tim Halodoc berfoto bersama
source: @Halodoc 

Pola asuh gizi yang keliru tentunya mengakibatkan si kecil tidak mendapatkan gizi secara maksimal dari asupan makanan yang diberikan ibu. Terlebih di zaman sekarang, pola asuh gizi yang serba instan tentunya akan membawa dampak negatif pada anak.
Akibat dari kesalahan pola asuh gizi pun tentunya tidak main-main, si kecil bisa sakit dan tidak berkembang secara optimal.

MC dan dr. Herlina, Sp. A,
source: @Halodoc

Menurut dr. Herlina, Sp. A, selaku Dokter RS Ciputra Citra Garden dan tim medis dari Halodoc, ada 5 kesalahan pola asuh gizi yang sering terjadi, yaitu:

1. Memaksa anak untuk makan

Saat si kecil enggan untuk makan, jangan paksa si kecil mengonsumsi makanannya. Hal ini hanya akan membuatnya merasa ‘terpaksa’ dan justru semakin tidak menyukai kegiatan ini. Sebaliknya, biarkan sejenak ketika ia menolak dan minta kembali setelah beberapa waktu. 

Namun ingat, untuk membiasakan jam makan agar tidak berubah. Singkirkan makanan jika jam makan berakhir, sehingga anak tahu bahwa kalau ia tidak makan di jam tersebut maka ia harus menunggu di jam berikutnya.

2. MPASI sebelum 6 bulan

Kini masih ada ibu yang memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) kepada si kecil bahkan ketika usianya belum masuk 6 bulan. Padahal, seperti namanya, MPASI hanya pendamping sedangkan ‘makanan pokok’ untuk si kecil tetaplah air susu ibu. 

Sampai usia 6 bulan, anak sebaiknya diberi ASI eksklusif dan bukan MPASI. Karena pada usia di bawah 6 bulan, sistem pencernaannya belum sempurna, sehingga pemberian MPASI justru bisa menimbulkan reaksi atau gangguan pencernaan seperti konstipasi atau timbulnya gas.

3. Makanan tidak sesuai usia

Camilan untuk anak dan untuk orang dewasa tentu berbeda. Meskipun camilan yang diberikan adalah buah atau jus, tetap saja harus sesuai porsinya. Misalnya memberi jus buah pada balita, disarankan hanya maksimal setengah gelas jus 100% buah dalam sehari. 

Lebih dari itu hanya akan menambah gula dan berakibat anak tidak merasa lapar pada waktu makan. Camilan dengan nutrisi seimbang yang disarankan dokter adalah buah-buahan, sayur-sayuran, protein, gandum utuh, atau produk susu.

4. Pemakaian DOT terlalu lama

Pemakaian dot yang terlalu lama pada anak dapat berpengaruh buruk pada pembentukan struktur rahang dan gigi si kecil. Kebiasaan meminum susu dari dot bisa mengakibatkan bentuk rahang atas terlalu maju atau justru rahang bawah yang terlalu mundur. 

Mengurangi penggunaan dot baiknya setelah anak berusia lebih dari 6 bulan, kemudian menghentikan sama sekali penggunaannya selama beberapa bulan sesudahnya.

5. Banyak makanan manis

Pemberian makanan yang manis untuk si kecil merupakan kebiasaan yang kurang baik, karena menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)) kebutuhan gula harian untuk anak tidak boleh lebih dari 10% dari total energi yang dikonsumsi. 

Hal ini untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak. Untuk anak usia 1-3 tahun, 10% sama nilainya dengan 4-5 sendok teh gula. Sedangkan untuk anak usia 4-6 taun, 10 % sama artinya dengan 5-8 sendok teh gula.

Pemberian makanan manis terlalu banyak, bisa menyebabkan gigi rusak, obesitas, dan anak kehilangan nafsu makan. Menurut ahli medis, anak tidak perlu mengonsumsi makanan atau minuman manis lainnya untuk menjalankan pola makan sehat.

MC - dr. Herlina - Blessy 

Kelima kesalahan pola asuh gizi pada anak tersebut, tentunya dipicu oleh beberapa penyebab. Menurut Blessy, Manager Offline Marketing Halodoc, Ada 3 Faktor penyebab Kesalahan Pola Asuh Gizi pada Anak yang sering dilakukan oleh Ibu:

  1. Kesalahan informasi atau ajaran orang tua yang bertentangan dengan sisi medis.
  2. Sering kali menerapkan pola asuh yang dianggap benar tanpa konsultasi pada dokter terlebih dahulu
  3. Sering membandingkan perkembangan si kecil dengan yang lain.


Faktor penyebab tersebut haruslah diantisipasi agar ke depannya tidak terjadi lagi kesalahan-kesalahan pola asuh yang sering dilakukan ibu. Langkah awal yang bisa dilakukan para ibu adalah konsultasi dengan dokter spesialis anak.

Zaman sekarang para ibu seolah dipermudah untuk konsultasi dengan dokter. Kalau dulu harus bikin janji dengan dokter, datang ke rumah sakit, ambil nomor antrian dan menunggu cukup lama. kini, semuanya dapat ibu lakukan di rumah hanya dengan sentuhan jemari.

source: @Halodoc

HALODOC Membantu Para Ibu Hindari Kesalahan Pola Asuh Gizi Pada Anak

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan pola asuh gizi pada anak dan mencapai tumbuh kembang optimal, para ibu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis anak melalui aplikasi Halodoc, mulai dari ngobrol langsung dengan dokter melalui voice call, video call, dan chat. Dokter spesialis anak di Halodoc akan siap memberikan saran dan menjawab pertanyaan ibu. Jadi, para ibu tidak perlu bersusah payah hanya untuk sekedar berkonsultasi dengan dokter.

Blessy, Manager Marketing Offline Halodoc
"Halodoc bukan sekedar aplikasi untuk menjalankan fungsi kuratif atau penyembuhan tapi juga peduli terhadap sisi preventif kesehatan. Salah satu tujuan Halodoc adalah untuk membuat masyarakat Indonesia memiliki pengentahuan lebih luas tentang kesehatan dan tentunya menjadi lebih mudah menghubungi dokter". papar Blessy.

Selain itu, para ibu juga bisa memanfaatkan fitur Pharmacy Delivery, fitur layanan apotek antar 24 jam untuk membeli kebutuhan medis yang dibutuhkan dan pesanan akan diantar dalam satu jam, tanpa biaya ongkir lho.

Ada juga fitur Labs, yaitu layanan pengecekan kesehatan yang bekerja sama dengan Prodia. Fitur ini memungkinkan petugas lab untuk datang ke rumah atau kantor dan melakukan pengecekan kesehatan seperti cek darah, ataupun urine. 

Saat ini fitur Labs dapat dimanfaatkan oleh pengguna di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan. Namun, untuk pengguna di luar area itu tidak perlu bersedih, sebab Halodoc terus melalukan inovasi agar kemudahan dalam mendapatkan kesehatan dapat semakin dinikmati oleh masyarakat luas.


saya dan mba uchi gaishan sedang berbincang tentang fitur keren Halodoc 

Promo Menarik di Ulang Tahun HALODOC yang Kedua

Di ulang tahun yang kedua, Halodoc mengajak para ibu untuk lebih aware lagi terhadap pengasuhan gizi yang tepat pada anak. Melalui kampanye #KataDokterHalodoc ibu diajak untuk #SehatLebihMudah dengan berbagai layanan kesehatan dan berbagai kemudahan yang ditawarkan Halodoc.

source: @halodoc

Bukan hanya itu saja, di ulang tahun yang kedua Halodoc memberikan promo menarik yang bisa dinikmati keluarga, seperti: diskon 25% pembelian obat dan vitamin melalui Halodoc.


No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D