Karena kalau ngomongin kopi, yang langsung kebayang di kepala aku biasanya perkebunan di daerah pegunungan, udara dingin, atau perjalanan jauh ke luar kota. Tapi kemarin, dalam rangka offline gathering EcoBlogger Squad, aku justru menemukan pengalaman yang cukup unexpected: melihat, menyentuh, bahkan memetik kopi langsung dari pohonnya di Seniman Pangan, Vida Bekasi.
Ternyata, kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan ke kebun. Aku pulang dengan perspektif baru tentang makanan yang setiap hari kita konsumsi.
Awalnya aku kira Seniman Pangan bakal jadi typical place yang kita datangi untuk makan, ngobrol, dan foto-foto. Ternyata begitu masuk lebih jauh, suasananya berubah.
Kami diajak berkeliling area kebun dan melihat berbagai tanaman pangan yang tumbuh di sana. Ada singkong, tebu, kopi, mint, dan berbagai tanaman lainnya. Yang bikin pengalaman ini terasa berbeda adalah kita nggak cuma melihat tanaman dari kejauhan.
Kami literally diajak ikut panen.
Mulai dari mencabut singkong dari tanah, melihat dan mengambil tebu, sampai memetik buah kopi langsung dari pohonnya.
Selama ini, kita lebih sering mengenal makanan ketika sudah berada dalam bentuk paling akhirnya. Singkong sudah ada di pasar. Kopi sudah jadi minuman dalam gelas. Gula sudah dikemas cantik di supermarket.
Kita jarang berhenti untuk bertanya:
“Sebenarnya semua ini datang dari mana?”
Ternyata Ada Banyak Hal di Balik Satu Bahan Makanan
Ketika mencabut singkong sendiri, misalnya.
Kelihatannya simpel banget. Tinggal tarik dari tanah, selesai.
Tapi kalau dipikir lagi, sebelum singkong itu bisa kita makan, ada proses panjang di belakangnya. Ada yang menanam, merawat, menunggu sampai waktunya panen, kemudian mengolahnya.
Begitu juga dengan kopi.
Aku yang biasanya cuma tahu kopi dalam bentuk biji roasted atau minuman di coffee shop, kemarin bisa melihat langsung buah kopinya di pohon.
It was such a small moment, but somehow quite eye-opening.
Karena dari situ aku jadi lebih sadar bahwa pangan bukan cuma tentang produk yang akhirnya kita konsumsi.
Ada tanah, alam, petani, pengetahuan, waktu, dan proses yang semuanya saling terhubung.
Dan mungkin karena selama ini kita terlalu terbiasa dengan makanan yang sudah “jadi”, kita jadi lupa dengan perjalanan panjang di belakangnya.
Pangan Lokal Bukan Cuma Soal Makanan
Ini bagian yang menurutku paling menarik dari Seniman Pangan.
Konsepnya nggak berhenti di kebun.
Pangan yang berasal dari kebun dan berbagai sumber lokal bisa dikembangkan menjadi produk yang punya nilai tambah. Jadi bukan sekadar menghasilkan bahan mentah, tapi bagaimana pangan tersebut bisa diolah, dikembangkan, dan akhirnya punya nilai ekonomi yang lebih besar.
Di ekosistem Seniman Pangan dan Javara, kita juga bisa menemukan berbagai produk pangan lokal dari berbagai daerah Indonesia.
Dan buat aku, ini menarik karena Indonesia sendiri punya begitu banyak kekayaan pangan yang mungkin belum kita kenal.
Ada bahan pangan, rempah, hasil pertanian, sampai berbagai produk artisan yang punya cerita masing-masing.
Local food is not just about where the food comes from. It's also about the people and stories behind it.
Ketika kita memilih produk lokal, sebenarnya kita sedang memilih untuk lebih dekat dengan cerita itu.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Masyarakat Adat?
Kebetulan, kunjungan ini juga bertepatan dengan 9 Agustus, yang diperingati sebagai International Day of the World's Indigenous Peoples atau Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia.
Dan menurutku, timing-nya cukup meaningful. Karena ketika kita bicara tentang pangan lokal, kita sebenarnya juga sedang bicara tentang pengetahuan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat adat dan komunitas lokal (Indigenous Peoples and Local Communities/IPLC) memiliki pengetahuan yang sangat erat dengan alam di sekitarnya, mulai dari cara memanfaatkan sumber daya, mengenali tanaman, mengolah pangan, sampai menjaga keseimbangan lingkungan.
Knowledge like this is not something that just appears overnight.
It grows through generations.
Dan kalau pengetahuan tersebut nggak lagi digunakan atau dihargai, bukan nggak mungkin suatu hari perlahan-lahan ikut hilang.
Makanya, menurutku penting untuk melihat pangan lokal bukan hanya sebagai sesuatu yang “unik”, “tradisional”, atau bahkan sekadar tren.
Di baliknya bisa ada heritage, culture, knowledge, dan kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung jauh sebelum kita mengenalnya sebagai produk.
Economic Restoration Bisa Dimulai dari Hal yang Sederhana
Kalau mendengar istilah economic restoration, mungkin kedengarannya seperti sesuatu yang besar dan jauh dari kehidupan kita sehari-hari.
Padahal, menurutku kita bisa berkontribusi dari hal yang sangat sederhana. Dari apa yang kita pilih untuk konsumsi. Mulai mengenal pangan yang berasal dari daerah sekitar.
Mencoba produk lokal.
Membeli hasil dari petani atau produsen lokal.
Dan yang nggak kalah penting, mulai penasaran dengan cerita di balik makanan yang kita konsumsi.
Karena ketika ada permintaan terhadap produk lokal, ada kesempatan bagi petani, produsen, artisan, dan komunitas di belakangnya untuk terus berkembang.
Jadi economic restoration nggak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Sometimes, it starts with what we put on our plate.
Pulang dengan Cara Pandang yang Sedikit Berbeda
Aku datang ke Seniman Pangan kemarin dengan ekspektasi mau seru-seruan bareng teman-teman EcoBlogger Squad.
Dan memang seru banget.
Aku bisa panen singkong, pegang tebu, petik kopi, ambil daun mint, melihat kebun, dan tentu saja menikmati berbagai produk pangan yang ada di sana.
Tapi yang paling aku bawa pulang justru bukan cuma foto atau pengalaman metik kopi di Bekasi. 😂
Aku jadi lebih aware bahwa makanan yang kita anggap sederhana ternyata punya perjalanan yang panjang.
Dari tanah sampai ke meja.
Dari petani sampai ke konsumen.
Dari pengetahuan yang diwariskan turun-temurun sampai akhirnya menjadi produk yang bisa kita nikmati hari ini.
Dan mungkin setelah ini, setiap kali aku makan atau minum sesuatu, aku akan sedikit lebih sering bertanya:
“Ini berasal dari mana?”
Karena semakin kita tahu ceritanya, semakin kita bisa menghargainya.
Dan ternyata, belajar tentang pangan lokal nggak harus selalu lewat seminar atau materi yang serius.
Kadang, cukup dengan masuk ke kebun, mencabut singkong dari tanah, dan… pertama nih, metik kopi di Bekasi. ☕️🌱
A little experience, but a lot to think about.



















No comments:
Post a Comment
Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D