Pernah nggak sih, sudah masak lauk enak-enak, mulai dari ayam goreng, ikan bakar, tumis kangkung, sampai sambal terasi, tetapi rasanya ada yang kurang kalau belum ada nasi putih di meja makan?
Aku rasa sebagian besar orang Indonesia pasti relate dengan kebiasaan ini. Termasuk aku sendiri. Mau makan apa pun, rasanya nasi sudah seperti pasangan yang nggak bisa dipisahkan dari lauk. Bahkan, kadang kalau ditanya sudah makan atau belum, yang dimaksud sebenarnya bukan sudah mengonsumsi makanan, melainkan sudah makan nasi atau belum. Hehehe.
Padahal, kalau dipikir-pikir, Indonesia punya kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Ada singkong, ubi jalar, talas, jagung, sagu, dan berbagai jenis umbi-umbian yang sejak dulu menjadi makanan pokok masyarakat di sejumlah daerah.
Sayangnya, seiring perubahan pola konsumsi, kita semakin terbiasa menjadikan beras sebagai sumber karbohidrat utama. Padahal, keberagaman pangan lokal bukan hanya soal pilihan menu, tetapi juga berkaitan dengan biodiversitas, budaya, ketahanan pangan, bahkan kelestarian lingkungan.
Hal menarik inilah yang aku pelajari ketika mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad (EBS) pada 16 Oktober 2026 dengan tema "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan".








