Sunday, October 18, 2026

...

Dari Gambut ke Meja Makan: Mengenal Kekayaan Pangan Lokal Indonesia, Nggak Harus Selalu Nasi!


Pernah nggak sih, sudah masak lauk enak-enak, mulai dari ayam goreng, ikan bakar, tumis kangkung, sampai sambal terasi, tetapi rasanya ada yang kurang kalau belum ada nasi putih di meja makan?

Aku rasa sebagian besar orang Indonesia pasti relate dengan kebiasaan ini. Termasuk aku sendiri. Mau makan apa pun, rasanya nasi sudah seperti pasangan yang nggak bisa dipisahkan dari lauk. Bahkan, kadang kalau ditanya sudah makan atau belum, yang dimaksud sebenarnya bukan sudah mengonsumsi makanan, melainkan sudah makan nasi atau belum. Hehehe.

Padahal, kalau dipikir-pikir, Indonesia punya kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Ada singkong, ubi jalar, talas, jagung, sagu, dan berbagai jenis umbi-umbian yang sejak dulu menjadi makanan pokok masyarakat di sejumlah daerah.

Sayangnya, seiring perubahan pola konsumsi, kita semakin terbiasa menjadikan beras sebagai sumber karbohidrat utama. Padahal, keberagaman pangan lokal bukan hanya soal pilihan menu, tetapi juga berkaitan dengan biodiversitas, budaya, ketahanan pangan, bahkan kelestarian lingkungan.

Hal menarik inilah yang aku pelajari ketika mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad (EBS) pada 16 Oktober 2026 dengan tema "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan".

Awalnya, mungkin kita akan bertanya-tanya, apa hubungannya gambut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), biodiversitas, dengan makanan yang setiap hari kita konsumsi?

Ternyata, hubungannya dekat sekali. Bahkan, bisa dimulai dari apa yang kita pilih untuk mengisi piring makan keluarga.

Online Gathering EBS: Ketika Isu Lingkungan Bertemu dengan Urusan Dapur


Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini merupakan kolaborasi Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity. Sebanyak 70 member EBS mengikuti kegiatan ini untuk belajar lebih jauh tentang hubungan antara ekosistem gambut, keanekaragaman hayati, dan keberagaman pangan Indonesia.

Ada dua narasumber yang berbagi perspektif menarik dalam kegiatan ini. Keduanya membuatku melihat isu lingkungan dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Bukan hanya tentang bagaimana menjaga hutan agar tidak terbakar, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat tetap memiliki sumber pangan yang beragam dan berkelanjutan.

1. Peatland Is Not Wasteland: Gambut Bukan Lahan Kosong!

Sesi pertama menghadirkan Mas Yoga Aprillianno, Communications Lead dari Pantau Gambut, yang membawakan materi bertajuk "Peatland Is Not Wasteland".

Dari materi ini, aku jadi semakin memahami bahwa gambut bukanlah lahan kosong atau lahan tidak produktif yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.

Justru, ekosistem gambut memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Salah satunya adalah menyimpan karbon dalam jumlah besar. Gambut juga berperan dalam mengatur tata air, menjaga keseimbangan ekosistem, dan menjadi habitat bagi berbagai jenis flora serta fauna.

Sayangnya, ekosistem yang punya peran sepenting ini masih menghadapi berbagai ancaman, terutama akibat pengeringan dan alih fungsi lahan.

Ketika gambut dikeringkan, kondisinya menjadi jauh lebih rentan terhadap kebakaran. Bahkan, api tidak hanya membakar bagian permukaan, tetapi juga bisa merambat di bawah tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.

Fenomena El NiƱo dan musim kemarau memang dapat memperparah kondisi kekeringan. Namun, keduanya bukan satu-satunya penyebab karhutla. Kondisi gambut yang sudah terdegradasi dan dikeringkan menjadi salah satu faktor penting yang meningkatkan risiko kebakaran.

Nah, dari sini aku mulai memahami satu hal.

Kerusakan gambut ternyata bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan atau munculnya kabut asap. Ada kehidupan masyarakat dan sumber penghidupan yang ikut terdampak.

Bayangkan ketika suatu wilayah mengalami kerusakan ekosistem. Bukan hanya habitat satwa yang terancam, tetapi sumber pangan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat juga bisa terganggu.

Ketika lingkungan tempat masyarakat mencari dan menghasilkan pangan rusak, akses terhadap bahan makanan lokal pun bisa semakin terbatas. Ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah berpotensi meningkat.

Artinya, menjaga gambut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan dan ketahanan pangan masyarakat.

Sebuah perspektif yang mungkin sebelumnya jarang aku pikirkan ketika mendengar istilah karhutla.

2. Indonesia Kaya Pangan, Mengapa Kita Terlalu Bergantung pada Beras?

Sesi berikutnya menghadirkan Mas Ahmad Arif, jurnalis Kompas, yang membahas tentang keragaman biokultural sebagai kunci kedaulatan pangan dan iklim.

Salah satu hal yang cukup menarik perhatianku adalah pembahasan mengenai keberagaman pangan Indonesia.

Selama ini, kita mungkin lebih sering mengenal beras dan gandum sebagai sumber karbohidrat utama. Padahal, Indonesia memiliki kondisi geografis, kekayaan alam, serta tradisi masyarakat yang sangat beragam. Setiap daerah sebenarnya mempunyai potensi pangan yang berbeda-beda.

Misalnya, masyarakat Papua dan Maluku yang sejak lama mengenal sagu sebagai salah satu sumber pangan penting. Di sejumlah wilayah Kalimantan, masyarakat juga memiliki tradisi memanfaatkan umbi-umbian, sagu, dan berbagai hasil hutan sebagai sumber makanan.

Belum lagi singkong, ubi jalar, talas, dan jagung yang sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Aku jadi berpikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu terbiasa menganggap nasi sebagai makanan pokok yang wajib ada, sampai lupa bahwa sebenarnya ada banyak pilihan pangan lain yang tidak kalah menarik.

Padahal, kekayaan pangan Nusantara ini bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum beras menjadi begitu dominan dalam pola konsumsi masyarakat, berbagai komunitas di Indonesia sudah memiliki pengetahuan dan tradisi pangan masing-masing.

Setiap daerah punya cerita tentang bagaimana mereka memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dan menurutku, ini adalah kekayaan yang sayang sekali kalau sampai hilang hanya karena kita semakin seragam dalam memilih makanan.

3. Mengenal Umbi-umbian, Alternatif Karbohidrat yang Bisa Dicoba di Rumah

Setelah mengikuti sesi tersebut, aku jadi tertarik untuk kembali mengenal berbagai sumber pangan lokal yang sebenarnya mudah ditemukan di sekitar kita.

Apalagi sebagai seorang ibu, urusan menyiapkan makanan keluarga tentu menjadi bagian dari keseharian. Kadang kita ingin menyajikan menu yang bervariasi, tetapi ujung-ujungnya kembali ke nasi karena sudah paling praktis.

Padahal, sesekali mengganti sumber karbohidrat juga bisa menjadi pengalaman menarik untuk keluarga. Berikut beberapa bahan pangan lokal yang bisa mulai kita eksplorasi.

Singkong
Singkong termasuk bahan pangan yang mudah ditemukan di pasar tradisional. Cara mengolahnya juga relatif sederhana, bisa direbus, dikukus, atau dipanggang. Kalau ingin menjadikannya menu makan utama, singkong rebus bisa disajikan bersama pepes ikan, tumis tempe, sayur bening, atau sambal favorit keluarga. Sederhana, tetapi tetap mengenyangkan!

Ubi jalar
Siapa yang suka ubi kukus? Selain memiliki rasa manis alami, ubi jalar juga mengandung serat dan berbagai vitamin, termasuk beta-karoten pada jenis ubi yang berwarna oranye.
Ubi bisa diolah dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang. Untuk menu makan keluarga, kita bisa memadukannya dengan telur, ikan, tempe, dan sayuran.

Talas
Talas juga bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat. Teksturnya lembut setelah dimasak dan cocok dijadikan teman makan lauk rumahan.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Talas harus dikupas dan dimasak hingga benar-benar matang untuk mengurangi kristal kalsium oksalat yang dapat menyebabkan rasa gatal atau iritasi pada mulut dan tenggorokan.
Jadi, jangan asal mengolahnya, ya!

Sagu
Kalau membicarakan pangan lokal Indonesia, rasanya kurang lengkap tanpa sagu.

Bagi masyarakat di Papua dan Maluku, sagu bukan sekadar bahan makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas budaya.

Salah satu olahan sagu yang terkenal adalah papeda. Biasanya, papeda dinikmati bersama ikan kuah kuning dan sayuran. Kombinasi ini membuktikan bahwa makanan pokok tidak harus selalu berbentuk nasi untuk bisa dinikmati bersama lauk yang lezat.

Dari berbagai pilihan tersebut, aku belajar bahwa mengenalkan pangan lokal tidak harus dilakukan dengan perubahan besar-besaran.

Kita bisa memulainya secara sederhana. Misalnya, satu kali dalam seminggu mencoba menu makan berbahan singkong atau ubi sebagai pengganti nasi.

Yang perlu diingat, mengganti sumber karbohidrat bukan berarti mengabaikan kebutuhan nutrisi lainnya. Tetap lengkapi menu dengan protein, sayuran, dan buah-buahan agar kebutuhan gizi keluarga terpenuhi.

4. Pangan Lokal Bukan Sekadar Makanan, Ada Budaya dan Pengetahuan di Dalamnya

Ada satu bagian dari materi Mas Ahmad Arif yang menurutku cukup membuka wawasan. Ternyata, keberagaman pangan tidak bisa dilepaskan dari budaya dan pengetahuan masyarakat lokal.

Selama ini, mungkin kita melihat singkong, ubi, jagung, atau sagu hanya sebagai bahan makanan. Padahal, di balik setiap bahan pangan tersebut, ada sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat beradaptasi dengan alam di sekitarnya.
Pangan juga berkaitan dengan identitas, tradisi, pengetahuan bercocok tanam, hingga cara masyarakat menjaga keberlangsungan hidup.

Contohnya adalah masyarakat adat Dayak Ngaju yang memiliki tradisi berladang dan menjaga keberagaman benih. Praktik tersebut bukan hanya bertujuan menghasilkan bahan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan hubungan masyarakat dengan alam.

Ada pula masyarakat Boti di Pulau Timor yang mempertahankan keberagaman tanaman pangan melalui praktik menanam berbagai jenis tanaman dan mengonsumsi hasil yang mereka tanam.

Pengetahuan lokal, tradisi turun-temurun, serta peran perempuan dalam menjaga benih menjadi bagian penting dari keberlanjutan sistem pangan masyarakat.

Mendengar cerita ini membuatku sadar bahwa pangan lokal sebenarnya menyimpan nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan mengenyangkan perut.

Ada petani yang menjaga benih, ada masyarakat adat yang mempertahankan tradisi bercocok tanam, ada perempuan yang mewariskan pengetahuan tentang tanaman pangan kepada generasi berikutnya. Semua memiliki peran dalam menjaga keberagaman pangan Indonesia.

Jadi, ketika kita membeli hasil panen petani lokal atau mengenalkan makanan tradisional kepada anak-anak, sebenarnya kita juga sedang ikut menghargai pengetahuan dan budaya yang diwariskan oleh masyarakat terdahulu.

Menurutku, hal seperti ini penting dikenalkan sejak dini. Anak-anak perlu tahu bahwa makanan yang mereka konsumsi tidak muncul begitu saja di atas meja makan. Ada proses panjang, ada orang-orang yang bekerja, dan ada alam yang perlu dijaga agar sumber pangan tetap tersedia.

5. Hubungan Biodiversitas, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim

Dari keseluruhan materi Online Gathering EBS, aku semakin memahami bahwa biodiversitas atau keanekaragaman hayati memiliki hubungan yang erat dengan ketahanan pangan.

Biodiversitas bukan hanya tentang banyaknya jenis tumbuhan dan hewan di alam. Keanekaragaman hayati juga menjadi fondasi bagi sistem pangan yang lebih tangguh.

Coba bayangkan jika suatu masyarakat hanya bergantung pada satu jenis tanaman pangan. Ketika tanaman tersebut mengalami gagal panen akibat kekeringan, banjir, serangan hama, atau perubahan iklim, risiko gangguan pasokan makanan tentu menjadi lebih besar.

Sebaliknya, keberagaman sumber pangan dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan makanannya.

Setiap tanaman memiliki karakteristik berbeda. Ada yang lebih cocok tumbuh di lahan kering, ada yang membutuhkan lingkungan basah, dan ada pula yang dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan tertentu.

Karena itu, menjaga keberagaman tanaman pangan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan pangan.

Di sinilah perlindungan ekosistem gambut juga memiliki peran. Gambut yang terjaga membantu mempertahankan fungsi hidrologis, menyimpan karbon, serta mendukung kehidupan berbagai jenis flora dan fauna.

Ketika ekosistem rusak, dampaknya bisa meluas dan memengaruhi keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat.

Jadi, persoalan pangan ternyata tidak bisa hanya dilihat dari berapa banyak beras yang berhasil diproduksi atau berapa besar stok makanan yang tersedia.

Kita juga perlu melihat dari mana makanan berasal, bagaimana proses produksinya, siapa yang menjaganya, serta apakah lingkungan tempat sumber pangan tersebut tumbuh masih terlindungi.

6. Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mendukung Pangan Lokal?

Setelah mengikuti kegiatan ini, aku merasa bahwa kepedulian terhadap lingkungan sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar atau mengubah seluruh kebiasaan keluarga.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita coba.

Pertama, mulai mengenal pangan lokal di sekitar tempat tinggal.
Coba sesekali berkunjung ke pasar tradisional dan perhatikan bahan pangan yang dijual. Mungkin ada singkong, ubi, talas, jagung, atau bahan pangan khas daerah yang selama ini jarang kita beli.

Kedua, variasikan sumber karbohidrat keluarga.
Tidak harus selalu nasi. Kita bisa mencoba menu berbahan singkong, ubi, jagung, atau bahan pangan lokal lainnya sesuai ketersediaan dan kebutuhan gizi keluarga.

Ketiga, dukung petani dan produsen pangan lokal.
Membeli hasil panen petani sekitar merupakan salah satu cara sederhana untuk mendukung ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan kembali potensi pangan daerah.

Keempat, kenalkan makanan tradisional kepada anak-anak.
Menurutku, ini juga penting. Jangan sampai anak-anak hanya mengenal makanan modern, tetapi justru asing dengan pangan lokal yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Ajak mereka mengenal berbagai jenis umbi-umbian, mencoba makanan khas daerah, atau bahkan ikut membantu menyiapkan menu berbahan pangan lokal di rumah.

Kelima, ikut menjaga lingkungan dan ekosistem alam.
Karena pada akhirnya, keberlanjutan pangan juga bergantung pada lingkungan yang sehat. Menjaga hutan, gambut, sumber air, dan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari upaya menjaga sumber kehidupan.

Memang, perubahan pola konsumsi saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan karhutla atau kerusakan gambut. Dibutuhkan perlindungan ekosistem, kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, serta keterlibatan berbagai pihak.

Namun, mengenal pangan lokal bisa menjadi salah satu langkah awal untuk membangun kesadaran tersebut.

Dari Sepiring Makanan, Kita Bisa Belajar Lebih Peduli pada Alam


Mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad kali ini memberikan banyak perspektif baru buatku.

Awalnya, aku mungkin hanya membayangkan kegiatan ini akan membahas tentang gambut, kebakaran hutan, dan keanekaragaman hayati. Ternyata, pembahasannya jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu makanan yang kita konsumsi setiap hari.

Aku jadi semakin sadar bahwa urusan pangan bukan sekadar tentang apa yang enak dimakan atau apa yang paling mudah dimasak.

Ada ekosistem yang menyediakan sumber pangan, ada petani dan masyarakat lokal yang menjaganya, ada tradisi yang diwariskan, serta ada biodiversitas yang perlu dilindungi agar keberagaman pangan tetap tersedia untuk generasi berikutnya.

Indonesia sebenarnya sangat kaya. Kita punya singkong, ubi, talas, jagung, sagu, dan berbagai sumber pangan lokal lainnya. Sayang sekali kalau kekayaan tersebut perlahan terlupakan hanya karena kita terlalu terbiasa mengandalkan satu jenis makanan pokok.

Aku sendiri jadi ingin lebih sering mengeksplorasi bahan pangan lokal untuk menu keluarga. Siapa tahu, dari yang awalnya hanya mencoba singkong rebus atau ubi kukus, justru muncul kebiasaan baru yang lebih beragam.

Karena menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Bisa juga dimulai dari mengenal makanan yang kita konsumsi, menghargai hasil bumi, mendukung petani lokal, dan mengajarkan anak-anak untuk mencintai kekayaan pangan Nusantara.

Sebab, menjaga alam bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di hutan atau di luar rumah. Menjaga alam juga berarti menghargai setiap sumber kehidupan yang hadir di meja makan kita.

Jadi, kalau selama ini menu makan keluarga selalu identik dengan nasi, bagaimana kalau sesekali kita mencoba sesuatu yang berbeda?

Siapa tahu, sepiring singkong, ubi, atau papeda justru menjadi awal dari perjalanan kita mengenal kembali kekayaan pangan Indonesia.





No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir. semoga bermanfaat ^_^
Jangan lupa tinggalkan komen yaaa ;D