Monday, January 14, 2019

...

Sebab Rumah Ibadah Bukan Tempat Kampanye

 

Nggak seru!
Asli liat timeline sosmed sekarang itu nggak seru. Semuanya serba panas dan saling adu politik. Nggak kok, nggak salah kita aware dan paham mengenai politik. Justru itu hal yang patut diapresiasi. Tapi kalau saling gontok-gontokan apa nggak bikin keki?

Aku sendiri memaklumi jika ada teman sosmed yang berpolitik dan terang-terangan mendukung salah satu paslon, namun harus beretika. Misalnya, memilah-milah mana yang pantas dishare dan mana yang tidak. Mana yang akan menimbulkan kebencian mana yang tidak.

Mengajak teman untuk mendukung salah satu paslon itu boleh, sangat boleh, tapi tidak dengan cara menjelek-jelekan paslon lain. Ingat gengs, kita tidak akan pernah menjadi baik dengan jalan menjelek-jelekkan orang lain. Bener nggak?

Satu lagi yang bikin aku sedikit gerah, zaman sekarang orang kampanye suka nggak kenal tempat. Bukan cuma sosmed seperti Facebook, Instagram, Twitter aja yang dijadikan ajang kampanye, tapi juga rumah ibadah, hiks.

Masjid, Gereja, Pura, dan Vihara kadang dijadikan tempat kampanye. Sedih aku tuh, oknum tersebut seolah menodai kesucian rumah ibadah, please deh masih ada kok tempat lain yang jauh lebih keren dan mengasyikan untuk jadi forum diskusi soal politik.


Hal ini juga yang kemarin menjadi tema besar dalam acara temu blogger dan Polres Jakbar beberapa waktu lalu. Bertajuk #JakbarPemiluDamai, Polres Jakbar kembali mengingatkan, bahwa ajang demokrasi ini haruslah kita sambut dengan penuh kesantunan.

Memang tak lama lagi kita akan menyambut pesta demokrasi akbar. Tanggal 17 April 2019 nanti merupakan hari yang bersejarah bagi masa depan bangsa, karena hari itu menentukan siapa yang akan memimpin bangsa ini lima tahun mendatang.

Sebagai masyarakat, aku mengharapkan pesta demokrasi itu bisa berjalan lancar, tertib, damai dan aman sentosa. Dan memang rasa-rasanya hampir semua masyarakat Indonesia baik itu pemerintah, kepolisian, sampai warga sipil sepakat.

Meski berbeda pilihan bukan berarti persaudaraan bubar kan. Jadi sebisa mungkin semua elemen mastarakat tetap berpegang teguh pada kerukunan dan tali persaudaraan.

Seperti itu juga yang diharapkan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Barat berserta jajaran 3 Pilar, Polres Jakarta Barat, Dandim 0503, Walikota Jakarta Barat, Kajari, Ketua FKUB Jakbar, beserta tokoh Lintas Agama, Ketua MUI Jakbar, PGI, KAJ, Walubi, PHDI, MATAKIN, mengajak semua warga Jakarta Barat untuk tidak menodai proses demokrasi Indonesia dengan cara-cara yang tidak sehat atau memecah belah bangsa yang kerap dilakukan sekolempok oknum di berbagai kesempatan di tempat ibadah.

Untuk menjaga keutuhan NKRI dan menjalin kebersamaan serta demokrasi yang berkualitas, FKUB Jakarta Barat bersama warga serta tokoh lintas agama berkomitmen Menolak tempat ibadah untuk dijadikan penyebran isu Hoax, SARA, dan radikalisme demi terciptanya Pemilu 2019 yang damai, aman dan sejuk.

Menurutku, ini adalah bentuk komitmen bersama dalam membangun demokrasi yang berkualitas dan menciptakan pemilu damai dan bermartabat. Komitmen bersama ini diwujudkan dengan pemasangan spanduk di sejumlah tempat ibadah di Jakarta Barat, yang di antaranya ada 860 Masjid, 237 Gereja, 1 Pura, 85 Vihara, totalnya ada 1183 tempat ibadah yang akan dipasangi spanduk.


Dalam acara kemarin, Kapolres Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Hariyadi menyatakan dukungannya terhadap komitmen bersama FKUB dan tokoh lintas agama wilayah Jakarta Barat untuk bersama-sama menjaga marwah demokrasi karena dengan adanya Pemilu 2019 justru masyarakat harus saling menghormati perbedaan dan menyambut pesta demokrasi dengan suka cita.

Karena sejatinya tempat ibadah hanya digunakan untuk kegiatan kegamaan dan dilarang keras dijadikan tempat provokatif atau penyebar isu SARA dan hoax yang rentan terjadi jelang pemilu.

Komitmen bersama dan pemasangan spanduk di rumah ibadah ini diharapkan akan mengurangi terjadinya konflik antar agama atau konflik sesama agama, guna menciptakan cooling system dalam rangka menghadapi pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk.

Komitmen bersama ini dibuat untuk terus menjaga, mempertahankan dan memperkokoh Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.


Kalau kamu sendiri, apa sih yag kamu lakukan jelang pemilu ini? dan pendapatmu tentang rumah ibadah yang dijadikan tempat kampanye gimana? share di kolom komentar yaa ^_^



1 comment:

Mukhofas said...

Politik yang paling sederhana ada dalam rumah tangga setiapo orang.

Jadi kita juga ngga boleh berpolitik ya dalam rumah tangga?