Belakangan ini dunia pendidikan ramai memperbincangkan wacana penghapusan skripsi. Yup, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim mengusulkan sebuah program terobosan untuk perkembangan pendidikan di Indonesia dengan menghapus skripsi sebagai syarat kelulusan perguruan tinggi.
Hal ini tentu menuai pro dan kontra di kalangan akademisi. Banyak yang setuju, tapi tak dipungkiri banyak juga yang kurang setuju. Mayoritas mahasiswa setuju, karena merasa skripsi agak kontradiktif dengan dunia kerja. Skripsi layaknya tugas yang disusun setebal mungkin dengan bahasa berbusa-busa, sedangkan di dunia kerja mereka dituntut untuk mengkomunikasikan ide sesimpel dan seefektif mungkin.
Menjawab hal ini, beberapa waktu lalu aku hadir ke kantor pusat Sinotif yang ada di Kemang Pratama Bekasi. Rasanya bahagia bisa berkolaborasi sekaligus menjadi narasumber di Podcast Edukasi Sinotif. Terlebih materi yang kami diskusikan ini sedang hangat diperdebatkan.







.jpeg)






